Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

Stok Minim, Harga Bawang Putih Melonjak

107
Ilustrasi

Minimnya stok bawang putih di pasar tradisional Kota Kendari menyebabkan harga eceran mengalami kenaikan dari Rp35 ribu per kilogram (kg) menjadi Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kg.

Laporan: WATY, Kendari

Salah satu pedagang bawang putih di pasar Mandonga mengatakan kenaikan bawang putih sudah terjadi sejak beberapa minggu yang lalu.

“Normalnya bawang biasanya saya jual sebesar Rp35 ribu. Dua pekan lalu masih di harga Rp40 ribu per kilogram (kg) dan minimnya stok sehingga dalam beberapa hari ini harus dijualkan dengan harga Rp55 ribu,” ungkapnya, Selasa (18/2).

Berdasarkan pantauan, kenaikan harga ini terjadi hampir semua pasar tradisional. Di pasar Korem, rata-rata pedagang menawarkan bawang putih dengan harga Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kg.

Sementara di Pasar Baruga selaku sentral pembongkaran barang dagangan dari luar daerah, pedagang juga cukup kesulitan untuk mendapatkan stok bawang putih.

Salah seorang pedagang Rusdi yang ditemui mengatakan, bawang putih dagangannya dibanderol dengan harga Rp50 ribu per kg.

“Bawang putih disuplai dari (Sulawesi) Selatan, yaitu Enrekang. Di sana stoknya sedang kurang sehingga harganya cukup mahal. Kalau lagi normal, saya jual dengan harga Rp35 ribu per kg. Di Selatan juga kan barangnya impor dari Tiongkok jadi memang sedang kurang stok,” ujarnya.

Meskipun mengalami kenaikan, tingkat penjualannya tidak mengalami penurunan. Jika biasanya ia mampu menjual hingga 30 kg per hari, kini ia masih bisa menjual dengan jumlah serupa.

“Kalau penjualan saya rasa masih tetap. Saat harga dari pengecer mahal, penjual di sini (Pasar Baruga) juga agak berkurang. Hanya beberapa yang bertahan,” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra Sitti Saleha mengungkapkan, dari pantauan rutin yang dilakukan tiap harinya, harga bawang putih cenderung mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.

“Ada kenaikan harga bawang putih dan bawang merah. Kami sudah konfirmasi dengan distributor, memang barangnya sedang langka. Berbeda dengan bahan pokok lainnya seperti cabai dan sayur-sayuran yang masih normal. Cabai rawit bahkan harganya turun,” bebernya.

Ia menambahkan, suplai bawang putih Sultra selama ini berasal dari Enrekang, Sulawesi Selatan dan Surabaya, Jawa Timur. Saat ini stok di dua daerah tersebut sedang kurang.

Stok di distributor hampir semua daerah sedang terbatas. Bawang putih kita memang diimpor dari Tiongkok. Untuk ke Sultra, pintu masuknya lewat Surabaya kemudian Sulawesi Selatan.

Atas masalah kelangkaan tersebut, Disperindag Sultra dalam waktu dekat akan mengadakan pertemuan dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk mengantisipasi lonjakan harga sekaligus mengantisipasi keterbatasan stok.

“Tidak ada kendala dengan jalur distribusi. Memang dari sananya tidak ada barang. Kami sudah cek juga di depot logistik (dolog), stok bawang putih kosong. Ini akan jadi salah satu perhatian utama kami. Apalagi sudah mendekati bulan puasa,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.