Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

2021 Penerapan AKM dan AKS Pengganti UN di Sekolah

365
Ilustrasi

Sampai hari ini, masih terdapat pro dan kontra atas kebijakan yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) terkait penerapan asesmen kompetensi minimum (AKM) dan survei karakter siswa (SKS), sebagai pengganti ujian nasional (UN) pada 2021 mendatang.

LAPORAN: SUMARDIN, KENDARI.

Satu sisi, pemerintah berdalih penerapan AKM dan SKS ini merupakan metode yang pas, karena pola tersebut peserta didik akan lebih siap dan tidak tertekan. Sebaliknya, dengan metode UN akan menjalankan kerja pragmatis dan kemampuan peserta didik untuk menghafal.

Walau masih belum detail tentang  mekanisme penerapan AKM dan SKS ini, namun pelaksanaannya  tidak seperti pola yang identik dengan hafalan.

Pakar Pendidikan Sulawesi Tenggara (Sultra) Prof Abdullah Alhadza mengatakan, keberadaan AKM ini harus memiliki dan mempersiapkan alat ukur yang komprehensif dan valid, asesmennya disiapkan secara betul-betul akurat,  baik dari sisi metodologi maupun dari segi substansi.

Diketahui, AKM sendiri diperuntukan kepada siswa kelas IV sekolah dasar (SD), VIII sekolah menengah pertama (SMP), dan XI sekolah menengah atas (SMA), agar membuat para peserta didik memiliki evaluasi selama satu tahun ke depan.

Selain itu, AKM ini siswa berpikir bahwa mereka mengetahui di mana letak kemampuannya dan bagaimana caranya agar dapat mencapai standar minimum yang disepakati.

“Dan itulah yang akan menggiring mereka untuk lebih percaya diri dalam menyongsong masa depan, karena mendapatkan dukungan juga dari guru dan orangtuanya,”

“Tapi, ketentuan teknis AKM biar dibebaskan ke setiap sekolah. Artinya, setiap sekolah dapat menentukan bentuk ujiannya apakah berupa portofolio, penugasan atau tes tertulis,” ujarnya, Senin (24/2)

ia berharap, semoga guru dapat cepat beradaptasi dengan kebijakan yang baru ini, sehingga memudahkan pula proses adaptasi para siswanya.

“Jika guru berhasil beradaptasi dengan perubahan ini, maka siswa yang akan menjadi generasi masa depan bangsa juga akan mampu beradaptasi, dan keluar sebagai hasil dari perubahan sistem pendidikan,” ucapnya.

“Saya kira nilai dari AKM ini juga dapat dijadikan pertimbangan memasuki dunia kerja. Di situ pemakai lulusan dapat menganalisa kualitasnya,” ujarnya.

Saya berharap, AKM ini juga didukung dengan mempersiapkan sumber daya guru yang berkualitas, karena apa pun yang dilakukan pemerintah terkait kebijakan asesmen, intinya pertama adalah kualitas guru.

“Tidak kalah penting siswa harus mempunyai budaya belajar, serta peranan orangtua sangat penting. Jangan sampai menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anaknya kepada sekolah,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.