Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

Kota Tua Kali Kedua

137
LM Ishak Junaidy

Kota tua Kendari, seperti halnya kota-kota lain di dunia pada masa lampau pernah menjadi pusat peradaban, kemudian lindap tergilas  zaman. Ada kota yang benar-benar ditinggal pergi dan ada pula yang hanya sepi seakan mati. Kendari ada di kategori kedua.

Catatan: LM Ishak Junaidy

Bila Jakarta punya Batavia, maka di Kendari wajah kota lamanya tergurat di Kandai, daerah di sekitar Pelabuhan Nusantara saat ini.

Dia pernah mentereng di era kolonial sebagai kota pelabuhan VOC yang dibangun seorang Belanda, JN Vosmaer, yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat kecantikan Teluk Kendari dalam perjalanan pulang ke Makassar setelah mengelilingi pantai timur Sulawesi pada 1831.

Bertolak dari situ, Kandai diintroduksi dari pesisir yang autentik menjadi kota yang sibuk. VOC mendirikan kantor dagang (loji) dan Vosmaer diangkat jadi asisten residen oleh pemerintah Hindia Belanda.

Dalam kisah selanjutnya, Vosmaer berhasil membujuk Raja Laiwoi memindahkan istananya ke Kandai dari Lepolepo, ibu kota kerajaan.

Perkawinan pusat niaga dan pusat pemerintahan segera melahirkan kota baru yang ranum, sehingga menarik pedagang Cina dan Arab pada 1920 datang berbondong-bondong membangun pertokoan dan menetap di sana.

Gemilang kota ini setidaknya terus bertahan hingga 1980-an sebelum perlahan-lahan redup, seiring bergulirnya arus perkembangan kota ke arah Kemaraya, kemudian Mandonga dan Wuawua pada awal 1990-an.

Kandai menjadi usang lalu dinamakanlah dia kota lama, setelah berkibar kurang lebih 150 tahun.

Ini Desember 2019, Pelabuhan Nusantara sudah beberapa tahun belakangan tak lagi disinggahi kapal besar, karena Teluk Kendari mengalami penyempitan dan pendangkalan akibat sedimentasi yang dikirim 32 sungai besar dan kecil yang bermuara kepadanya.

Hasil penelitian Balai Penelitian Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Sampara Sultra, luas teluk awalnya 1.186 hektare (ha) dan pada tahun 2000 tinggal 1.084 ha serta terus menyusut secara menyedihkan.

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari membuat laporan pada 2010, sampah dan erosi menyumbang sedimentasi 1.330.281 meter kubik per tahun.

Jumlah itu membuat laju pendangkalan setinggi 0,207 meter per tahun.

Dalam perspektif 10 tahun di depannya, ungkap penelitian itu, kontur kedalaman 1-3 meter akan bakal berubah menjadi daratan seluas 923 ha. Pada saat itu, luas teluk tersisa 197 ha.

Melihat kondisi teluk hari ini, para peneliti UHO sepertinya berada di jalan yang benar.

Ekolog UHO Kendari Dr Ir La Ode Alwi MSi memperkirakan, Teluk Kendari mempunyai kedalaman kurang lebih 24 meter di masa lalu. Hasil pengukurannya sekitar tahun 2010 mencatat titik paling dalam hanya 6 meter.

Bila harus mempercayai laporan laju sedimentasi dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup UHO, semestinya sekarang tinggal 4 atau 5 meter.

Tidak ada lagi masa depan pelabuhan di Teluk Kendari.

Seakan memberi angguk setuju, pemerintah pada 2017 membangun dermaga baru di luar teluk, langsung menghadap laut lepas, dan diletakkan di Bungkutoko Kecamatan Abeli.

Dua dermaga sekaligus, saling berdampingan: Pelabuhan Bungkutoko dan Kendari New Port. Apa yang tersisa di Pelabuhan Nusantara?

Seiring makin masifnya pembangunan di satu sisi menuju metropolitan, yang mengganti setiap hamparan hijau dengan hutan beton, Teluk Kendari di sisi lain menghitung mundur detik-detik kelahiran daratan baru.

Fenomena yang akan membuat masjid terapung tidak lebih dari masjid panggung Al Alam.

Jembatan teluk nantinya hanya pantas disebut Tol Bahteramas. Dan, Teluk Kendari menjelma kampung baru atau mungkin hutan muda.

Kota lama, sebuah kota pelabuhan serta-merta jadi pedalaman. Kota yang memang sudah mati, menuju kematian kedua kalinya.

Konsekuensi lain yang juga harus diterima, kutub kota bakal berganti arah. Masa depan Kota Kendari kini ada di Bungkutoko dan sekitarnya.

Kiranya lumrah bila Abeli muncul sebagai pusat kota baru menggantikan posisi strategis yang pernah dimiliki kota lama.

Dan, Kandai serta Kemaraya akan bernasib seperti Abeli dan Poasia tahun 80-an. Nantinya, dilalui pun jarang. Orang dari pelabuhan ke bandara dan sebaliknya tidak lagi lewat Kemaraya dan Kandai.

Ada begitu banyak cara mati sebuah kota. Bencana alam, wabah penyakit, atau perang. Tapi, cara mati kota lama Kendari bikin tepuk dahi. Dibunuh oleh sedimentasi. (*)

Tinggalkan komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.