Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

Kementan Optimis Daya Saing Produk Hortikultura *Meningkat, Dorong Kawasan Korporasi

55
Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Prihasto Setyanto (ketiga dari kanan) didampingi Direktur Pascasarjana UHO, Prof R Marsuki Iswandi (kedua dari kiri) dan Ketua Program Studi S3 Ilmu Pertanian PPs UHO, Prof Gusti Ayu K Sutariati (kedua dari kanan) melihat kebun organik Pascarjana UHO.
KENDARI, BKK – Peningkatan nilai tambah dan daya saing merupakan aspek terpenting dari grand desain pengembangan komoditas hortikultura. Produk-produk hortikultura ke depan harus lebih mampu bersaing di pasar internasional.
          Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Prihasto Setyanto mengatakan, penetrasi buah impor saat ini luar biasa. Terutama pasca ratifikasi (World Trade Organization/Organisasi Perdagangan Dunia), dimana suatu negara tidak boleh melarang aktivitas penjualan komoditas hortikultura, kecuali karena satu hal-hal tertentu.
         Anton – sapaannya, lantas menceritakan pengalamannya ke Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, saat pembukaan peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-39.
        “Anggur diimpor dari Tiongkok dijual di desa-desa sana. Ada pir. Mana buah-buah lokal kita? Artinya apa, ini menjadi tantangan kita bersama untuk meningkatkan daya saing buah-buahan lokal,” kata dia saat memberikan kuliah umum bertajuk ‘Strategi Kementerian Pertanian Dalam Pembangunan Hortikultura 2020-2024 di Aula Pascasarjana Universitas Halu Oleo Kendari,  Senin (4/11).
         “Peningkatan nilai tambah dan daya saing akses ekspor hortikultura menjadi sebuah keniscayaan. Produk hortikultura yang berdaya saing, sehingga bisa berjaya di dunia internasional,” lanjut alumnus Universitas Brawijaya tersebut.
        Dia menjelaskan, Kementerian Pertanian telah merumuskan arah pengembangan hortikultura dalam lima tahun ke depan. Salah satu tujuannya adalah meningkatkan daya saing komoditas hortikultura.
       “Kita harap peningkatan bisa menstimulus terhadap ekspor, produk berdaya saing, serta memacu peningkatan ekonomi,” beber Prihasto.
2020, Pacu Ekspor Hortikultura
      Dia menambahkan, mulai 2020 mendatang pengembangan kawasan hortikultura akan dilakukan secara masif. Artinya ketika di satu daerah ada komoditas hortikultura yang potensial, maka bantuannya akan dimasifkan.
      “Misalnya satu daerah punya 50 hektare kawasan buah. Kemudian hasil panennya bagus. Nanti kita akan perluas skalanya sampai 200 hektare. Kami juga berikan bibit unggul,” cetus Anton.
       Kementan, kata dia, siap memberikan bantuan bibit, pupuk, hingga pengendalian OPT selama 5 tahun ke depan.
      “Muaranya nanti adalah bagaimana tercipta basis-basis komoditas hortikultura yang besar dan terintegrasi. One village one variety. Ketika ada pasar ekspor, mempermudah memasarkan,” ujar pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Sayur dan Tanaman Obat tersebut.
      Dalam kesempatan itu, Anton juga menyinggung ihwal pembicaraan Presiden Joko Widodo terkait penyederhanaan birokrasi. Saat ini, Kementan tengah menginventarisasi 
sejumlah regulasi yang dinilai tumpang tindih.
      “Terkait ekspor hortikultura ada sekitar 14 aturan yang kami sedang coba memangkasnya menjadi empat aturan,” ungkap Anton.
      Dia mengemukakan bahwa penyederhanaan aturan dilakukan untuk menstimulus peningkatan ekspor.
      “Semangat Bapak Presiden adalah bagaimana memangkas prosedur yang berbelit. Tujuannya tak lain supaya investasi tak terhambat. Ini juga yang sedang kami rumuskan,” jelasnya. (bk) 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

// Prints content with layout that is selected in panels. // Location: "views/general/post/style-*.php"