Lingkar Sultra

Peragakan 31 Adegan, 2 Pelaku Habisi Korban dengan Batu

(MANSIRAL/BERITA KOTA KENDARI)
Tersangka Peri dan Bayu saat memperagakan cara menghabisi nyawa korban

LASUSUA, BKK –Tim Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kolaka Utara (kolut), Senin (25/3), mengelar rekonstruksi kasus pembunuhan terhadap Safiah (35) warga Desa Batuganda. Dua pelaku yakni Peri (26)  dan Laode Berlin atau Bayu (24) memperagakan 31 adegan.

Kapolres Kolut, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Susilo Setiawan SIK, melalui Kasat Reskrim, Iptu Ahmad Fatoni mengunkapkan, rekonstruksi  dugaan pembunuhan terhadap  Safiah (35) merupakan salah satu tahapan dari peyidikan.

“Rekonstruksi ini untuk memperagakan perbuatan kedua pelaku dalam melakukan pembunuhan terhadap korban. Rekonstruksi ini untuk memastikan keterangan kedua tersangka yang ada di berita acara pemeriksaan (BAP) sama dengan perbuatan dilakukan,” kata Ahmad Fatoni, usai gelar rekonstruksi kemarin.

Menurutnya, dengan alasan keamanan rekonstruksi tidak dilakukan di tempat kejadian perkara (TKP) di Desa Batuganda. Sebab, antara TKP dan rumah keluarga korban cukup dekat.

“Kasus ini awalnya agak kabur sebab tidak adanya saksi mata. Kedua tersangka memperagakan 31 adegan. Mulai dari saat pelaku Peri menghubungi korban melalui telepon selularnya untuk bertemu,” urai Ahmad Patoni.

Usai menelepon, Peri  dan Bayu kemudian menuju ke TKP. Di sana, Peri langsung menemui korban sementara Bayu bersembunyi terlebih dulu.

Setelah bertemu, tersangka Peri yang sudah mengenal dan  memiliki hubungan khusus dengan korban, mengajak korban untuk berhubungan badan.

Usai Peri dan korban melakukan hubungan layaknya suami istri,  Bayu kemudian muncul dari persembunyiannya. Saat itu korban meminta Peri untuk menikahinya dan akan melapor ke pemerintah desa setempat terkait kejadian yang baru saja dialaminya bersama  Peri.

Mengetahui maksud korban, Peri menyampaikan pada Bayu bahwa korban harus dibunuh.

Saat itulah Peri mencekik leher korban hingga jatuh terlentang di tanah dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Namun sebelum meregang nyawa, Bayu masih sempat menggauli korban.

Bayu kemudian mengambil sebuah batu gunung dan memukulkan di bagian pelipis dan menginjak dada korban. Melihat korban masih bernapas Bayu kembali mengambil batu besar dan mengayungkan ke arah muka korban hingga korban tidak bergerak lagi.

Setelah memastikan korban sudah tidak bernyawa, kedua tersangka ini melarikan diri.

“Motifnya pembunuhannya, hanya karena korban meminta untuk dinikahi pelaku Peri. Kedua pelaku ini diketahui telah melakukan pesta minuman keras (Miras) di Desa Simbula,” tutur Ahmad Patoni.

Atas tindakan kejahatannya itu, kedua tersangka dijerat dengan Pasal  338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman 15 tahun kurungan, kemudian Pasal 365 ayat 3 tentang pencurian dengan kekerasan yang ancaman hukumanya 15 tahun kurungan dan perbuatan cabul dengan ancaman 9 tahun kurungan.

Dia menambahkan, berkas perkara kedua tersangka tersebut akan segera dilimpakan ke pihak kejaksaan untuk proses lebih lanjut.

Sementara itu, pendamping hukum kedua tersangka, Wawan SH mengatakan rekontruksi ini hanya untuk melengkapi BAP kedua kliennya itu.

Tersangka Peri dan Bayu, yang sempat ditanyai mengungkapkan penyesalan atas perbuatan menghabisi nyawa korban. Kedua tersangka juga meminta maaf pada keluarga korban.

“Sangat menyesal pak dan kalau ada orang tuanya kami mau minta maaf,” kata keduanya kompak. (r6/nur).

To Top