Headline

Sultra Peringkat Pertama di Indonesia yang Pelajarnya Terpapar Narkoba

Anak usia sekolah asyik menghirup uap lem Fox.

KENDARI, BKK- Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari mengungkapkan, Senin (7/1), Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan provinsi peringkat pertama dari 34 provinsi yang ada di Indonesia sebagai pelajar yang terpapar penggunaan narkotika, psikotropika, dan obat terlarang (narkoba).

Kepala BNN Kota Kendari Murniaty kepada wartawan koran ini mengatakan, pihaknya mencatat pada 2016 terdapat 107  kasus narkoba di kalangan pelajar, baik sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). Lalu, pada 2017 ada 84 kasus, dan 2018 tercatat 62 kasus.

Menurut Murniaty, berdasarkan data yang dimiliki BNN Kendari, sebaran pengguna zat adiktif di kalangan pelajar itu tersebar secara merata, baik sekolah berpredikat Islami atau tidak Islami, maupun sekolah negeri atau swasta.

Fakta lainnya, beber dia, dari jenjang pendidikan tersebut yang mendominasi penggunaan narkoba adalah pelajar SMP.

“Disebabkan kondisi anak yang labil dan dipengaruhi kondisi keluarga yang kurang harmonis,” kata Murniaty.

Zat adiktif yang banyak dikonsumsi para pelajar di antaranya tembakau Gorila, jamur tahi sapi (psilocybin), ganja, sabu-sabu, dan lem Fox.

Tapi, kata dia, yang paling dominan dipakai para pelajar tersebut lem Fox, di samping harganya relatif murah barangnya juga gampang diperjualbelikan.

“Setiap tahun kita terus melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah baik taman kanak-kanak (TK), SD, SMP, dan SMA, bekerja sama dengan dinas terkait dengan tujuan menekan angka tersebut,” katanya.

“Kita harapkan 2019 ini Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kendari mengesahkan peraturan daerah (perda) yang diminta oleh BNN Kendari agar membuat jera penjual maupun pengedar, sehingga penjual lem Fox juga lebih berhati-hati menjual lem Fox kepada mereka (pelajar) di bawah umur,” ujarnya.

Sejauh ini, kata dia, kendala yang  dihadapi BNN Kendari dalam menjalankan tugas di lapangan adalah jumlah personel yang hanya 25 orang, juga terkait dengan koordinasi waktu pelaksanaan kegiatan yang dilakukan.

“Saya menghimbau kepada keluarga tatkala melihat perilaku yang aneh yang ditampakkan anaknya, agar tidak apatis melihat perilaku menyimpang. Melainkan, segera dilakukan rehabilitasi kepada klinik BNN Kendari yang mampu memberikan harapan kepada mereka yang sudah terpapar narkotika,” anjurnya. (cr1/iis)

To Top