Headline

Dua Anak Korban Tsunami Palu Melanjutkan Sekolah di SDN 1 Poasia Kendari

Fla Indra Gerar (kiri) salah satu korban gempa dan tsunami Palu yang sudah memulai proses belajar di SDN 1 Poasia. (SUMARDIN/BKK)

KENDARI, BKK- Dua anak pengungsi korban gempa dan tsunami Kota Palu, melanjutkan sekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Poasia Kota Kendari. Meski masih sering kaget bila mendengar bunyi gedebuk dan trauma masih membekas di wajahnya, namun ia mengikuti proses belajar dengan baik.

Keduanya adalah Fla Indra Gerar P, duduk di bangku kelas 5. Serta seorang wanita, Ayska Arabella Syam, masih kelas 3.

Kepala SDN 1 Poasia Bado SPd MPd ditemui wartawan Berita Kota Kendari (BKK), Rabu (10/10) mengatakan, sekolah yang dipimpinnya menerima 2 murid korban gempa dan tsunami, tepatnya pada Selasa (9/10). Keduanya diantar langsung orangtuanya.

“(Mereka) Sudah memulai proses belajar mengajar, tapi anaknya belum bisa berbicara, belum bergaul, masih ada perasaan trauma kelihatannya. Itu terlihat ketika saya mencoba berinteraksi langsung dengan murid yang bersangkutan, ia lebih banyak diam. Malahan orangtuanya yang menjawab semuanya. Ini mungkin pengaruh trauma, sehingga apa yang saya tanyakan dia tidak bisa menjawab,” terang Bado, di ruang kerjanya.

Disebutkan, pihak sekolah sudah barang tentu akan memberikan pendekatan-pendekatan khusus terhadap keduanya, agar psikologisnya bisa kembali seperti semula, sehingga bisa melakukan interaksi yang lebih baik terhadap warga sekolah, baik guru, murid, dan yang lainnya.

Lebih jauh, kata Bado, untuk pendekatan khususnya tentu yang lebih mengetahui yakni gurunya, apakah melalui permainan-permainan atau dipanggil tersendiri di depan kelas dengan berbagai interaksi permainan yang dilakukan. Tentu, lanjut dia, tujuannya untuk memulihkan perasaannya.

“Saya berharap, agar murid yang bersangkutan tetap melanjutkan pendidikannya, jangan mudah berputus asa. Sehingga, dapat kembali bermain, bergaul , agar trauma yang dialaminya bisa pulih,” harapnya.

Orangtua Ayska Arabella Syam, yang berhasil dihubungi melalui sambungan telepon, Nurlina Abdullah SE menuturkan, setelah kejadian di Palu, anaknya sering mengalami ketakutan dan kaget yang berlebihan bila mendengar bunyi dan suara agak keras.

Ia menduga, hal itu akibat gempa yang mengakibatkan rumahnya goyang dan perabotan berjatuhan menimbulkan suara yang agak keras, terlempar ke sana kemari.

Ia berharap, dengan anaknya melakukan aktivitas belajarnya di sekolah kembali, lambat laun anaknya dapat melupakan kejadian yang dialaminya, agar dapat pulih kembali seperti biasa dan bergaul dengan teman-temannya.

“Saya berharap agar anak-anak dapat tetap lanjut sekolah sambil kita mengamankan diri di sini (Kendari, red), agar trauma yang dialaminya diberikan kesembuhan secepatnya, agar dapat beraktivitas dan tersenyum sebagaimana biasanya. Itu yang kita harapkan sebenarnya,” pungkasnya.(m1/iis)

To Top