Headline

4 Fakta Kota Kendari Tertinggi HIV

Ilustrasi.

KENDARI, BKK- Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kendari berpendapat, untuk menekan kasus HIV (human immunodeficiency virus) pemerintah mesti rutin melakukan pemeriksaan THM (tempat hiburan malam). Tapi, menurut Kepala Dinas Kesehatan, bukan cuma THM, saat ini perilaku seks menyimpang di kalangan mahasiswa khususnya yang tinggal di kos-kosan juga lumayan longgar.

Ketua Komisi I H Subhan kepada wartawan mengatakan, Selasa (7/8), peningkatan penderita HIV sebanyak 275 kasus harusnya menjadi warning buat seluruh elemen, baik masyarakat maupun pemerintah kota (pemkot).

“Sehingga, Pemkot harus melakukan langkah-langkah, baik itu lewat peraturan daerah (perda) yang mengatur tentang penderita HIV itu sendiri, juga harus bisa mengatur agar setiap masyarakat bisa melakukan pemeriksaan secara dini,” katanya.

Tidak Melulu Lewat Hubungan Seks

Bagaimanapun juga, lanjut Subhan, penyebaran HIV tidak mesti harus lewat hubungan seksual di luar nikah, melainkan bisa juga dari kondisi-kondisi tertentu, misalnya lewat air liur.

“Ibu rumah tangga (IRT) walaupun tidak melakukan perbuatan seks yang menyimpang, harus tetap melakukan pemeriksaan atau kontrol kesehatan. Hal ini sangat penting untuk dilakukan oleh siapa saja, karena tidak tertutup kemungkinan pasangannya sudah tertular virus HIV,” ujarnya.

Satu Kasus HIV Bisa Rusak Satu Kota

Subhan melanjutkan, Kota Kendari menjadi kota yang selalu menjadi tujuan utama pendatang, sebab itu sebaiknya Pemkot rutin melakukan pemeriksaan di THM, termasuk melakukan langkah-langkah pencegahannya.

“Karena, mencegah sebenarnya lebih baik daripada mengobati. Sehingga, kesadaran masyarakat harus kita tingkatkan bahwa menjadi sangat penting untuk kita melakukan pemeriksaan kesehatan,” paparnya.

Pasalnya, lanjut dia, satu kasus HIV bisa menjadi ancaman buat seluruh warga Kota Kendari.

Tidak jarang, seseorang sudah terinfeksi HIV namun tidak menyadari. Karena itu, menurut dia, setiap orang memang harus rutin melakukan check up agar cepat ditangani dan tidak menyebar ke tempat lain.

Belum Ada Tempat Prostitusi

Khusus di Kota Kendari, sebut Subhan, belum ada tempat prostitusi, sehingga pemerintah sudah bisa mendeteksi tempat-tempat mana saja yang potensial terjadi transaksi seks terjadi.

“Sekalipun memang ada tempat prostitusi di Kota Kendari, sebaiknya petugas kesehatan melakukan pengecekan baik setiap sepekan atau setiap bulan,” anjurnya.

Lepas dari itu, sambung dia, jika ada THM yang melayani prostitusi, jika dewan dapati, tidak saja sanksi teguran yang diberikan.

“Ancaman penutupan usaha itu langsung kami lakukan. Karena, memang hingga kini belum ada izin legal prostitusi di Kota Kendari. Yang ada itu hanya izin THM,” tambahnya.

Makanya,masih kata dia, pihaknya selalu melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan memantau kegiatan-kegiatan di THM, agar predikat yang disandang Kota Kendari sebagai kota tertinggi kasus HIV itu ada lagi.

Seks Bebas Juga Terjadi di Kos-kosan Mahasiswa

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Kendari Rahminingrum ditemui terpisah mengatakan, pihaknya selalu mengambil langkah untuk menekan jumlah pengidap HIV, dengan cara merangkul orang-orang yang ada di status HIV.

“Meskipun, pelaksanaannya tidaklah mudah,” akunya.

Kecuali THM, beber dia, saat ini perilaku seks menyimpang di kalangan mahasiswa di Kota Kendari khususnya yang tinggal di kos-kosan juga lumayan longgar.

Kondisi ini juga terus diantisipasi untuk untuk menghindari penyebaran penyakit mematikan itu.

“Makanya kami punya tim yang bertugas untuk mendatangi tempat hiburan malam, panti pijat, bahkan di kos-kosan,” katanya.(cr6/iis)

To Top