Beranda

Per Juni 2018, 11 Kasus HIV/AIDS Ditemukan di Kendari

KENDARI, BKK – Sejak Januari hingga Juni 2018, sudah ditemukan 11 kasus pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) AIDS di Kota Kendari.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Kendari Rahmingrum mengungkapkan, dari 11 kasus tersebut 1 di antaranya teridentifikasi positif AIDS dan selebihnya kini tengah terjangkit virus HIV.

“Kasus HIV/AIDS merupakan kasus yang ditemukan, mudah-mudahan memang di lapangan terjadi penurunan kasus. Sebab, saya khawatir 11 kasus tersebut merupakan angka yang ditemukan, sementara yang tersembunyi atau yang kita tidak tahu kami harapkan juga tidak besar,” ujar Rahminingrum ditemui, Senin (6/8).

Ia menyebutkan, Pekerja Seks Komersial (PSK) atau pun pelanggan-pelanggannya adalah salah satu kelompok yang beresiko terkena HIV. Namun, karena malu atau takut, mereka terkadang tak mau memeriksakan kondisi kesehatannya untuk mengantisipasi terkena penyakit yang disebabkan virus berbahaya tersebut .

“Orang yang terkena HIV tersebut sama sekali tidak ada ciri-cirinya, karena masih bisa beraktifitas seperti orang-orang pada umumnya. Jalan satu-satunya untuk memastikan mengidap HIV atau tidak harus dilakukan pemeriksaan laboratorium,” jelasnya.

Lain halnya jika sudah berada di fase AIDS, kata dia, ciri-cirinya sudah mulai dirasakan penderita. Gejalanya khas yakni batuk pilek terus menerus, kemudian pembesaran kelenjar getah bening, serta infeksi seluruh tubuh dan infeksi rongga mulut.

“Biasanya orang stadium AIDS jika sama sekali tidak mengkonsumsi obat yang menahan laju pembelahan virusnya, maka virusnya semakin cepat. Karena virus HIV jika sudah terlanjur masuk dalam tubuh manusia maka selamanya virus tersebut akan ada di dalam tubuh,” paparnya.

Dinkes Kendari sendiri, lanjutnya, selalu mengambil langkah untuk menekan jumlah pengidap HIV/AIDS dengan cara merangkul orang-orang yang ada di status HIV, meskipun pelaksanaannya tidaklah mudah.

Ia pun membeberkan, saat ini perilaku seks menyimpang di kalangan mahasiswa di Kendari khususnya yang tinggal di kos-kosan juga lumayan longgar. Sehingga, hal ini juga terus diantisipasi untuk untuk menghindari penyebaran penyakit mematikan itu.

“Makanya kami punya tim yang bertugas untuk mendatangi tempat hiburan malam, panti pijat, bahkan di kos-kosan,” pungkasnya. (cr6/nur)

To Top