Lingkar Sultra

Marak Pencurian Sapi di Konawe

UNAAHA, BKK – Kapolres Konawe, AKBP Muh Nur Akbar melalui Kasat Reskrim, Iptu Rachmat Zam Zam mengimbau, masyarakat untuk mewaspadai aksi kejahatan tindak pencurian ternak sapi yang kini marak terjadi. Sepekan terakhir ini, banyak warga melapor kehilangan sapi.

“Sejak menjelang bulan puasa mulai bermunculan laporan kehilangan ternak sapi. Perlu diwaspadai karena akan terus berlanjut hingga menjelang lebaran nanti,” ujar Iptu Rachmat, Kamis (17/5).

Atas maraknya laporan tersebut, kata Rachmat, pihaknya sigap menindaklanjuti laporan warga tersebut. Pada Rabu, 16 Mei 2018 lalu Timsus Polres Konawe berhasil membekuk pelaku kejahatan ternak sapi di tiga lokasi berbeda yang selama ini meresahkan warga.

Masing-masing Ikhsan, warga Kelurahan Poasaa Kecamatan Unaaha, Konawe. Rudi warga Kelurahan Wuawua, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari. Ketut, warga Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari.

Menurutnya, ketiga tersangka merupakan spesialis  atau telah dianggap profesional dalam melakukan tindak kejahatan pencurian sapi. Sepak terjangnya, ujar Iptu Rachmat, bukan saja di Konawe tetapi sampai di Konawe Utara.

“Usai ditangkap dan diperiksa, ketiga pelaku langsung ditahan di sel Mapolres setempat,” paparnnya.

Ia mengatakan, tersangka Ikhsan mengakui mengambil  8 ekor sapi dengan TKP berbeda-beda di antaranya,  Morosi 1 ekor, Purui 1 ekor, Abeli Sawah 2 ekor, Singgere 1 ekor, Meluhu 1 ekor, Anggolomoare 1 ekor, dan di Poasaa Kelurahan Unaaha 1 ekor sapi.

Di Konut;  1 ekor sapi di wilayah Kecamatan Sawa dan 1 ekor sapi di wilayah Kecamatan Lasolo.

Sementara tersangka Rudi mengakui mengambil 2 ekor sapi, TKP masing-masing 1 ekor di Poasaa Kelurahan Unaaha dan 1 ekor di Meluhu. Sedangkan tersangka Ketut mengakui mengambil 1 ekor sapi di Poasaa Kelurahan Unaaha bersama dengan tersangka Ikhsan.

“Ketiganya merupakan satu komplotan yang kerap melakukan aksinya secara bersama-sama. Tersangka dikenakan Pasal 363 ayat 1 tentang tindak pidana pencurian ternak dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” tuturnya.

Terkait dengan itu, dia meminta kepada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Konawe untuk mengontrol penjualan daging di pasar. Tujuannya, supaya dapat diketahui daging yang dijual di pasaran betul-betul hasil dari pemotongan resmi, bukan dari hasil pencurian. (r4)

To Top