Aktualita

Pertanian Organik Solusi Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Bupati Butur Drs Abu Hasan saat membacakan konsep dalam pengembangan pertanian organiknya dihadapan pemangku kebijakan dibidang pertanian dan akademisi. (FOTO SUMARDIN/BKK)

KENDARI, BKK – Bupati Buton Utara (Butur), Drs H Abu Hasan MPd menyatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Butur dibawah kepemimpinannya melahirkan kebijakan dan inovasi untuk mengembangkan pertanian organik. Karena dia meyakini dengan program ini sebagai solusi mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan dimasa yang akan datang.

Abu Hasan mengatakan hal itu ketika menjadi pembicara pada Seminar Regional dan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPMASEPI) yang digelar Himpunan Mahasiswa Jurusan Agribisnis (HIMJAGRI) Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo (UHO), di aula Fakultas Pertanian (FP) UHO, Kamis (29/3).

Abu Hasan menjelaskan, peran pemerintah masih sangat penting dalam pengembangan dan peningkatan pertanian di Butur yang mayoritas pertaniannya masih menerapkan pertanian tradisonal, yakni dengan menerapkan pertanian organik khususnya pada penggunaan pupuknya.

“Tentunya, peran pemerintah sangat penting dalam mengeluarkan kebijakan dalam membantu pengolahan lahan, pengadaan bibit dan juga pupuk bagi masyarakat,” kata Abu Hasan.

Dikatakan, tahun lalu, dirinya mengeluarkan dana khusus untuk pengolahan lahan yang diperuntukan kepada masyarakat kurang lebih Rp 1 miliar, dimana untuk luasan lahan 1 hektar yang diusahakan masyarakat dalam bertani dibantu dua juta.

Kedepannya, katanya, dana pengolahan tersebut akan ditingkatkan, bersama dengan pengadaan pupuk dan bibit untuk luasan lahan kurang lebih 2 ribu hektar.

Dalam pengembangan pertanian tersebut, menurut Abu Hasan bukan tanpa masalah. Disebutkan, problem yang dihadapi Butur sekarang yakni problem masa panen yang relatif rendah yang satu tahun sekali dan problem dalam memasarkan hasil-hasil pertanian khususnya beras organik.

“Untuk mengantisipasi problem tersebut, saya akan mengupayakan pembuatan bendungan untuk masyarakat guna bisa panen lebih banyak dalam setahun. Sedangkan, problem pasar kita melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) Sultra agar hasil panen padi di Butur dapat dibeli oleh Bulog,” ujarnya.

Mantan aktivis HMI ini menambahkan, selain pertanian dia juga mengembangkan potensi lainnya di Butur seperti di sektor perkebunan yakni cengkeh, jambu mete dan kelapa yang cukup berpotensi di Butur.

Ia berharap, dengan kebijakan yang dibuatnya dalam pengembangan sektor pertanian organik di Butur.

“Semoga, ini dapat terintegrasi dengan sektor-sektor yang lainnya, sehingga masyarakat di Butur menjadi masyarakat yang berdaya saing dan maju agar berimbas kepada kesejahteraan masyarakatnya,” harapnya. (m1/lex)

To Top