Beranda

Polda Sultra Ringkus Kawanan Penipu Lewat SMS

Tiga tersangka (membelakang) dan barang bukti yang diamankan Resmob Polda Sultra. (FOTO:KASMAN/BKK)

KENDARI, BKK- Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) menangkap kawanan penipu lewat short message service (SMS). Ketiganya yakni Febri Widjayanto (30), Agus Salim (29), dan Muh Yunus (21).

Personel Unit Reserse Mobil (Resmob) Subdirektorat III pada Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sultra menangkap ketiganya pada salah satu rumah toko, di Jalan Senopati Kompleks Pasar Panjang Kelurahan Bonggoeya Kecamatan Wuawua Kota Kendari, Senin (5/3) sekira pukul 15.30 Wita.

Di tempat inilah mereka menjalankan tabiat tipu-tipu. Korban yang mereka sasar adalah berdomisili di luar Sultra, yakni Sulawesi Selatan (Sulsel), Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.

Wadirreskrimum Polda Sultra Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ilham Saparona SIK, Selasa (6/3) mengurai, terkuaknya aksi ketiga tersangka yang merupakan warga Ladongi Kabupaten Kolaka Timur ini bermula dari laporan masyarakat.

Beberapa hari setelah menerima informasi dari masyarakat itu, pihaknya langsung melakukan penyelidikan. Mencari keberadaan para tersangka.

Ilham menyebut salah satu korban seorang ibu di Makassar, Sulsel telah mengaku tertipu sebesar Rp 20 juta, belum lagi di daerah lain.

Khusus, di Sultra, masih dilakukan pendalaman ada tidaknya korban, namun hingga kini belum ada yang melapor.

Modus mereka menjalankan aksinya dengan cara mengirim SMS kepada nomor setiap orang yang tidak diketahui. Ada 17 rubu SMS setiap kali pengiriman.

Dari 17 ribu itu, ada minimal 10 orang yang menanggapi SMS tipu-tipu ini. Isi SMS-nya yaitu, seolah-olah para tersangka akan membeli barang kepada korban.

“Yang menanggapi SMS para tersangka ini sudah pasti orang yang memang menjalankan bisnis jual beli barang online. Jadi, setelah SMS masuk dan ada tanggapan, korban dan tersangka langsung berbicara lewan telepon,” terang Ilham.

Kemudian, tersangka menyampaikan kepada korban bahwa harga barang telah ditransfer ke nomor rekening yang telah dikirimkan sebelumnya. Lalu, korban disuruh mengecek ke anjungan tunai mandiri (ATM) terdekat.

Padahal, sebenarnya tersangka tidak pernah melakukan transfer satu rupiah pun. Mengetahui uang belum masuk, korban mencoba menelpon ke tersangka.

Di sinilah tersangka menjalankan aksi jahatnya. Caranya, menyuruh korban untuk mengutak-atik mesin ATM dengan dipandu tersangka lewat telepon.

“Korban biasanya tidak sadar kalau saldo dalam rekeningnya sudah ditransfer sendiri ke tersangka. Karena ada yang berpendapat transfer itu terjadi harus memasukan nomor rekening, padahal dengan memasukan nomor telepon saja bisa,” kata Ilham.

Perwira polisi dengan dua melati di pundak ini menambahkan, bahkan untuk meyakinkan korban, salah satu dari tersangka kadang berpura-pura sebagai pegawai bank. Ini untuk menyampaikan bahwa transfer uang itu gagal karena ada gangguan dan semacamnya.

Ilham bilang, ketiga tersangka segera dijemput personel dari Polda Sulsel. Pasalnya, beberapa korban sudah melapor ke kantor polisi yang ada di wilayah Makassar.

Lebih lanjut, Ilham mengatakan, barang bukti yang disita atas dugaan penipuan lewat SMS tersebut yakni satu laptop, tujuh handphone (hp), modem, lima lembar kartu ATM, 20 sim card, tujuh modem, uang tunai Rp 1,8 juta, lata pengisap narkoba jenis sabu-sabu (bong), dan beberapa lembar bukti transfer dari salah satu bank. (man/iis)

To Top