Beranda

Komisi III Kecam Insiden Penembakan Warga Laonti oleh Aparat

Sarman (35) terbaring di RSUP Bahteramas Kendari dengan satu lubang peluru di pahanya.

KENDARI, BKK – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengecam insiden aparat menembaki sejumlah warga Desa Tuetue Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) yang menggelar aksi protes atas masuknya perusahaan tambang, PT Gerbang Multi Sejahtera (GMS).

Salah satu korbannya, Sarman (35), terbaring di Rumash Sakit Umum Provinsi (RSUP) Bahteramas Kendari.

Anggota Komisi III DPRD Sultra, La Ode Mutanafas mengatakan, Selasa (16/1), Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Konsel diharapkan turun langsung dan segera mengambil langkah untuk menyelidiki kasus penembakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Kami menduga ada kongkalikong yang dilakukan oleh pihak perusahaan dengan pihak lain, untuk mengintimidasi warga yang melakukan pengadangan alat berat yang ingin masuk di area pertambangan,” katanya.

Untuk kepastian masalah ini, lanjut Mutanafas, Komisi III dalam waktu dekat mengagendakan kunjungan lapangan di area izin usaha pertambangan (IUP) PT GMS dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Setelah itu, sambung dia, pihaknya akan menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan memanggil semua pihak terkait.

“Bila terbukti ada pelanggaran perundang-undangan dan masih dalam penyelesaian masalah hukum lainnya oleh PT GMS, maka tidak menutup kemungkinan kami akan merekomendasikan pemberhentian seluruh aktivitas perusahaan sampai semua masalah terselesaikan,” ujarnya.

Bahkan, tegas dia, jika terbukti ditemukan pelanggaran berat, tidak tertutup kemungkinan IUP PT GMS ini direkomendasikan untuk dicabut.

“Enak sekali para pengusaha tambang ini. Habis mereka ambil kekayaan negeri kita yang sejak turun temurun dimiliki oleh masyarakat setempat, tiba-tiba mereka langsung main rampas dengan selembar izin yang namanya IUP. Penjajahan moderen dengan mengeksploitasi sumber daya alam negeri kita harus segera kita hentikan,” ujarnya.

Kepada pihak kepolisian, ia berharap jangan terkesan melakukan pembiaran, karena pada saat peristiwa penembakan terjadi, pihak pengamanan seharusnya mampu meredam konflik sehingga dapat menengahi permasalahan saat di lapangan.

“Polisi adalah pengayom masyarakat, mari kita jaga amanah ini dan jangan biarkan pengusaha hitam merajalela mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) kita,” imbaunya. (cr6/iis)

To Top