Kasuistika

Ditegur Ayah Tiri, Siswa SMK Kesehatan Panjat Tower Setinggi 42 M Mau Buang Diri

Personel SAR Kendari berhasil evakuasi seorang siswa kesehatan yang nekat bunuh diri dengan memanjat tower jaringan telekomunikasi. (FOTO:KASMAN/BKK)

KENDARI, BKK – Seorang siswa pada salah satu sekolah menengah kejuaruan (SMK) kesehatan di Kota Kendari nekat ingin bunuh diri.

Adalah Anjar Tombili (18), hendak mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari atas tower jaringan telekomunikasi setinggi 42 meter, di Jalan Rambutan II Kelurahan Wowawanggu Kecamatan Kadia Kota Kendari, Kamis (11/1).

Panatauan juranalis koran ini, aksi siswa Kelas X SMK Kesehatan Mandonga ini menghebohkan sekaligus menjadi tontonan ratusan warga yang mengabadikan gambar, berupa foto maupun video melalui telepon seluler.

Bukan hanya itu, kendaraan yang melintas di jalan poros persis di depan tempat hiburan malam (THM) Spazio, tersendat. Ratusan pengendara berhenti dan menonton aksi Anjar.

Kala itu, siswa berambut cepak ini Anjar mengenakan baju kaos hitam, celana sekolah hijau dan putih.
Seorang warga sekitar, Kartini Dongge (52) mengaku, dirinya melihat korban memanjat sekira pukul 16.30 Wita.

“Saya kira tadi petugas tower, karena dia (Anjar, red) langsung panjat begitu saja. Itu anak sering lewat sini (di samping rumahnya, red) kalau pulang sekolah,” terang wanita yang rumahnya tepat di samping tower ini.

Sementara, ibu kandung Ajar, Marlina Umar mengungkapkan, anaknya itu kemungkinan depresi karena malamnya sempat betengkar dengan ayah tirinya.

Pertengkaran itu, sambung wanita berjilbab ini, dipicu karena ayah tirinya melarang Anjar untuk berhenti bekerja sebagai sopir di Spazio Kendari.

“Jadi tadi malam (Rabu malam, red), dia habis bertengar sama bapaknya. Karena disuruh berhenti kerja,” ujar Marlina dengan nada sedih.

Untungnya, aksi nekat Anjar digagalkan tim evakusi dari Kantor Search And Rescue (SAR) Kendari. Anjar berhasil dievakusi dari puncak tower sekira pukul 17.10 Wita.

Kepala Subseksi (Kasubsi) Operasi dan Kesiapsiagaan Kantor SAR Kendari Jendry P mengaku, rencana bunuh diri Anjar ini ditehui melalui salah satu media sosial Fecebook (Fb).

Lima menit setelah mengetahui hal itu, sambung dia, tim yang berjumlah 10 personel langsung berangkat menuju tempat kejadian perkara (TKP).

“Jadi setelah informasi ini kita dapat dari medsos, kita langsung berangkat. Sebenarnya ini anak tinggal melangkah sedikit saja bisa jatuh,” katanya.

Tiba di TKP, empat personel langsung memanjat untuk menyelamatkan Anjar. Keempatnya yakni Dedi, Haeruddin, Asep Poage, dan Hery Kuswanto.

Dedi mengaku, sempat membujuk Anjar untuk tidak melakukan aksi nekat tersebut. Kala itu, beber dia, mata Anjar sudah ditutp menggunakan baju lengan panjang yang dikenakan. Ditambah lagi, hanya bergerak sedikit saja Anjar bisa saja langsung jatuh.

“Anjar sambil menangis di atas dan berkata sering dipukul sama bapak tirinya. Dia salah injak saja langsung los (jatuh, red),” tuturnya.

Masih kata Dedi, sebelum berusaha mendekati Anjar, dirinya terlebih dahulu membujuk agar tidak melompat.

“Setelah dekat dengan dia (Anjar), saya langsung rangkul, dan saya pasangkan tali rescue. Tapi memang sebelumnya saya takut jangan sampai dia lompat atau mengamuk, untungnya tidak kasihan,” katanya lega. (man/iis)

To Top