Bisnis & Ekonomi

Bulog Sultra Salurkan 60 ton Beras Medium di Kendari

RIA RAMAYANTI/BERITA KOTA KENDARI
PELEPASAN 60 ton beras sebagai bagian dari operasi pasar oleh pihak Kementerian Perdagangan, Bulog Divre Sultra, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra, Tim Pengendali Inflasi Daerah Sultra dan Satgas Pengawasan Pangan, di Gudang Bulog Punggaloba, Rabu (10/1)

KENDARI, BKK- Operasi pasar untuk menstabilkan harga pangan, terutama beras, resmi digelar di Kendari, Rabu (10/1). Sebanyak 60 ton beras medium dilepaskan dari Gudang Badan Urusan Logistik Punggaloba, ke empat pasar besar di Kota Kendari guna menetralisir gejolak harga beras.

Pelepasan 60 ton beras ini dilakukan oleh Direktur Pengembangan Produk Eksport, Kementerian Perdagangan RI, Ari Satria dan turut disaksikan Kepala Divisi Regional (Divre) Bulog perwakilan Sultra, Laode Amijaya Kamaludin serta pejabat dari dinas perindustrian. Enam puluh ton beras itu selanjutnya didistribusikan ke empat pasar besar di Kota Kendari, yakni Pasar Sentral Kendari, Pasar Anduonohu, Pasar Wuawua dan Pasar Mandonga.

Puluhan ton beras ini diangkut dengan menggunakan truk ini, dengan hitungan masing-masing 15 ton per truk per pasar. Ari Satria berharap 60 ton beras itu bisa menetralisir kenaikan harga beras di pasaran.

“Sesuai Surat Edaran Permendag No 57 tahun 2017, Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium di wilayah Sultra ditetapkan Rp 9.450. Tapi kita lepas dengan harga Rp 9.350, jadi Rp 100 di bawah HET,” tuturnya.

Operasi pasar ini juga melibatkan mitra-mitra distributor Bulog atau pedagang beras. Mereka diminta untuk segera mendistribusikannya ke para pedagang.

Setelah beras medium ini dilepas di pasaran, selanjutnya Satan Tugas Pangan Sultra akan memantau perkembangan harganya. Jika tidak ada perubahan harga, maka operasi pasar akan dilanjutkan.

“Jika HET sudah diterapkan dengan baik di masing-masing daerah, maka operasi pasar tidak perlu lagi. Yang jelas pemerintah ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa stok beras medium itu masih ada,” tandasnya.

Laode Amijaya Kamaluddin mengungkapkan, serappan beras Bulog Sultra mencapai 17.000 ton dan bisa memenuhi kebutuhan sampai enam bulan kedepan. Meski demikian, diakuinya serapan tersebut sangat jauh dari target yang ditentukan Bulog pusat, yakni 27.000 ton. Dengan kata lain, masih kurang 10.000 ton.

Menurutnya, tidak tercapainya target serapan beras lantaran pesatnya pertumbuhan penduduk sehingga konsumsi beras lebih banyak dari yang diproduksi. Belum lagi, harga beras yang ditawarkan melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Pertambahan penduduk juga mempengaruhi dan harga yang ditawarkan petani melebihi dari yang sudah ditetapkan pemerintah yakni Rp 4.800 untuk beras dan Rp 5.000 harga gabahnya. Harga ini masih berat buat Bulog untuk menyerapnya,” ujar Amijaya.

Dia melanjutkan, penyerapan beras paling banyak di Kolaka, Bombana, dan Konawe dengan rata-rata sekitar 50 ton per hari. (m3/aha)

To Top