Headline

Siswa SDS Lantimoasi Kabaena Belajar di Kandang Sapi

Inilah gedung SDS Lantimoasi yang terletak didusun Lantinea desa Lengora kecamatan Kabaena Tengah. Gedung ini adalah kandang sapi milik warga yang digunakan sebagai tempat belajar siswa. Foto: Ahmad Ridha/BKK

KABAENA, BKK – Memprihatinkan!! Di zaman now masih ada siswa yang belajar di kandang sapi. Fakta ini terjadi di Desa Lengora Kecamatan Kabaena Tengah kabupaten Bombana.

Di desa ini tepatnya di dusun dusun Lantinea ini ada sebuah Sekolah Dasar Swasta (SDS) diberi nama SDS Lantimoasi, yang belum memiliki gedung sekolah sehingga siswanya belajar di kandang sapi.

Pemberian nama SDS Lantimoasi ini dilakukan berdasarkan usulan warga setempat, oleh mereka, kata Lantimoasi itu berarti disayang. Kendati begitu kata disayang tersebut tidak menyentuh hati Pemkab setempat untuk memperhatikan nasib anak petani dan nelayan di wilayah itu.

Kondisi ini dilihat dari potret pendidikan bagi siswa yang menimba ilmu disekolah tersebut. Muridnya terpaksa harus belajar di salah satu kandang sapi milik warga karena gedung darurat yang dibangun secara swadaya oleh warga setempat belasan tahun silam yang kini telah rusak dimakan usia.

Dari data yang dihimpun Berita Kota Kendari (BKK), SDS Lantimoasi ini berdiri tahun 2005 silam atau tepat 12 tahun lalu saat ini hanya memiliki 18 orang siswa saja. Rinciannya, masing-masing tiga orang siswa untuk kelas satu sampai kelas tiga. Selanjutnya, dua orang siswa kelas empat, lima orang kelas lima, serta dua orang siswa untuk kelas enam.

Jumlah ini boleh dibilang tidak memenuhi syarat untuk mendirikan sekolah, namun karena kondisi geografis yang terbilang terpencil sehingga warga setempat terpaksa menyekolahkan anaknya di kandang sapi milik warga itu.

“Kalau sekolah ini kita tutup, kasian anak kami mau sekolah dimana. Ada sekolah yang agak dekat dari kampung ini tapi jaraknya empat kilo baru jalannya melalui hutan rimba baru jalan minta ampun jeleknya, jadi kami tidak bisa menyekolahkan anak kami di sana,” ujar, Agusalim (46) warga setempat.

Nasib anak sekolah ini tambah, Agusalim sudah sering diadukan ke Dinas Pendidikan Bombana utamanya soal permohonan bantuan gedung belajar, namun hingga kini belum pernah ditanggapi dinas terkait.

“Yang saya tau, setiap kepala sekolah yang tugas disini pasti pernah mengusulkan bantuan gedung di Dinas Pendidikan, tapi hingga kini belum ada juga. Saya sendiri bersama empat orang lainnya sering bantu kepala sekolah mengajar disini meski ijazah kami hanya tamatan SMA jadi saya tau persis perkembangannya,” ungkap pria yang akrab disapa, La Agusa ini.

Dirinya menduga, keengganan Pemkab Bombana utamanya dinas terkait untuk membantu dan memperhatikan nasib belasan siswa SD di sekolah tersebut terjadi akibat kurangnya siswa yang sekolah.

“Mungkin karena sedikit siswanya baru kami tidak dibantu pak. Tapi sampai hari ini kami masih tetap menunggu perhatian pemerintah,” harapnya.

Kepala SDS Lantimoasi, Irwan SPd mengaku sangat prihatin dengan kondisi siswanya yang selama ini belajar di kandang sapi milik warga. Katanya, sebelum dirinya menjabat sebagai kepala sekolah, rumah pakan sapi tersebut belum didinding.

“Saat saya menjabat sebagai kepala sekolah disini pada akhir 2016 lalu, tempat belajar ini belum sama sekali didinding. Nanti setelah saya ada baru kita dinding,” kata, Irwan yang dikonfirmasi, Senin (11/12).

Meski secara resmi belum menyampaikan permohonan bantuan gedung pada dinas terkait, namun hal ini telah ia sampaikan melalui kepala Dinas dan kini sedang menunggu realisasi.

Menanggapi soal adanya siswa sekolah yang belajar dikandang sapi ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadis Dikbud) Bombana, Abdul Rauf Abidin SPd mengaku akan segera menindaklanjuti jika memang telah ada usulan bantuan pembangunan gedung dari sekolah tersebut.

Hanya saja, dirinya tidak dapat memastikan apakah usulan tersebut akan terealisasi atau tidak. Proses pembangunan gedung bagi sekolah swasta yang jumlah siswanya hanya belasan orang tidak dapat terealisasi manakala mengharapkan dana dari APBN.

“Kalau menggunakan dana DAK atau APBD kabupaten mungkin kita bisa bantu, tetapi kalau APBN mohon maaf kami tidak bisa. Untuk DAK tahun 2018 saja sudah tidak bisa kita anggarkan, jadi mohon bersabar dulu hingga 2019 itupun kami tidak janji,” ujar, Rauf.

Sehingga baik siswa maupun orang tua siswa disekolah tersebut harus lebih bersabar menunggu tanggapan Pemkab setempat. (r2/lex)

To Top