Headline

Bukti Pengedar PCC Masih Berkeliaran

Kapolres Kendari AKBP Jemi Junaidi SIK dan Kasatresnarkoba Iptu Rudika Harto SIK menunjukan ribuan pil PCC yang diamankan dari dua tersangka (tampak paling belakang mengenakan baju tahanan). (FOTO:KASMAN/BKK)

KENDARI, BKK – Kepolisian Resor (Polres) Kendari menangkap dua terduga kurir pil terlarang jenis paracetamol, cafein, dan carisoprodol (PCC).

Adalah Fandi (23) dan Abdul Rauf (24). Kedua tersangka ini merupakan jaringan berbeda.

Fandi ditangkap di Jalan Ahmad Yani Kelurahan Bende Kecamatan Kadia Kota Kendari, persi di depan Stadion Lakidende, Selasa (5/12) sekira pukul 22.30 Wita. Sementara, Rauf diringkus di kosnya, Lorong Mbah Dukun Kelurahan Kadia Kecamatan Kadia, Rabu (6/12) sekira 18.30 Wita,

Kapolres Kendari Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Jemi Junaidi SIK, Senin (11/12) mengurai, penangkapan keduanya bermula dari informasi masyarakat.

Kemudian, dilakukan penyelidikan. Dan, mendapat Fandi sedang memiliki dan membawa pil PCC sebenyak 2.000 butir yang disimpan dalam dua kantong plastik bening.

Satu hari setelahnya, kata Jemi, pihaknya kembali menemukan Rauf menyimpan dan menguasai pil PCC sebanyak 3.076 butir. 3.000 butir disimpan pada tiga kantong bening hitam besar. Sedang, 76 butir dipisahkan pada beberapa kantong bening kecil.

“Jadi jumlah seluruh pil PCC yang kami amankan dari dua tersangka ini sebanykak 5.076 butir,” ujar perwira polisi dengan dua melati di pundak ini kepada awak media.

Jemi membeberkan, tiga orang lain yang telibat dalam dua kasus PCC ini sedang dalam pengejaran polisi. Bahkan, ketiganya sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Kini, sambung dia, pihaknya sedang berusaha mendalami jaringan pemasok pil PCC kepada dua tersangka tersangka tersebut.

Lebih lanjut, Jemi mengatakan, kedua tersangka dijerat Pasal 197 jo 106 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dan atau pasal 204 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), dengan ancaman 10 tahun penjara.

Ditemui di Mapolres Kendari, Fandi mengaku, dirinya menjadi kurir pil PCC sejak 2014. Sempat berhenti setahun, lalu kembali mulai menjadi kurir sekira satu bulan lalu.

Barang tersebut, uangkap dia, pil PCC tersebut berasal dari Makassar Sulawesi Selatan (Sulsel), yang dikirim melalui mobil eksepedisi. Dalam sekali pengiriman berjumlah 10 ribu butir.

Fandi bilang, barang bukti 2.000 butir pil PCC yang didapat polisi merupakan sisa dari barang yang belum diambil pemiliknya. Sementara, 8.000 ribu butir lainnya sudah berpindah ke tangan pemilik.

“Saya hanya sebagai kurir. Kalau sudah dikirim orang Makassar menelpon sama saya meminta barangnya dijemput di tempat pengiriman. Kemudian, masing-masing pemilik barang datang ambil sama saya,” terang warga Jalan Bunga Matahari I Kelurahan Lahundape Kecamatan Kendari Barat ini.

Fandi menuturkan, dalam setiap kali penjemputan barang, dirinya tidak mendapat upah dari sang pengirim. Dirinya hanya mendapat uang dari masing-masing pemilik PCC.

“Saya hanya dapat (upah, red) dari pemilik PCC. Kadang dikasih Rp 100 ribu, kadang juga Rp 50 ribu,” jelas pria beranak satu ini.

Fandi menyebut, faktor ekonomi dan tidak memiliki pendapatan tetap menjadi sebab mau bekerja sebagai kurir PCC. Ini untuk menanggu biaya hidup anak dan istrinya.

Di tempat yang sama, Rauf mengaku, 3.000 butir pil PCC yang yang disita polisi merupakan milik seseorang. Sedianya, barang haram tersebut hendak dibawa ke Ambon.

Namun, temannya tersebut menyuruhnya untuk membeli dan memintanya menyimpan di kamar kosnya untuk sementara waktu.

Rauf diiming-imingi uang sebesar Rp 300 ribu. Persisnya, setiap 1.000 butir PCC mendapat upah Rp 100 ribu.

Dirinya terpaksa menerima tawaran tersebut, kala itu benar-banar tidak memiliki uang. Dan, jadwal gajian sebagai karyawan operator bantu pada Perusahaan Listrik Negara (PLN) Area Kendari masih cukup lama. Sementara, susu anaknya sudah habis.

“Ada teman dari Ambon, dia (menyebut nama temannya, red) suruh saya pergi beli, dan saya mau dikasih Rp 300 ribu. Kebetulan susunya anakku habis, ya saya mau saja,” pungkas Rauf sambil memalingkan pandangannya di balik kaca jendela, melirik anak dan istrinya yang saat itu datang menjenguk. (man/lex)

To Top