Pilgub Kurang Greget – Berita Kota Kendari Online
Headline

Pilgub Kurang Greget

“Saya amati, adem ayam saja. Masyarakat kelihatan adem ayem. Pergerakan calon juga nyaris tidak kelihatan”
Dr Bahtiar, Dekan FISIP UHO

“Ini meruapakan bukti bahwa masyarakat kita, tidak lagi menjadikan politik sebagai sesuatu yang wajib”
Prof H Eka Suaib, Guru Besar FISIP UHO

“Politik ini kan dinamis dan berkembang terus. Tidak menutup kemungkinan pada saat pendaftaran di KPU nanti ada kejutan politik, bahkan keajaiban”
LM Rusman Emba, Bupati Muna

KENDARI, BKK – Pemilihan gubernur (pilgub) sudah memasuki tahapan pendaftaran calon perseorangan, dan sebentar pendfataran calon partai politik akan dilakukan. Namun tapaknya event politik lima tahun ini kurang greget di masyarakat.

Masyarakat sepertinya adem ayem saja menghadapi pilgub yang dilaksanakan serentak dengan pilkada di tiga daerah, Kota Baubau, Kolaka, dan Konawe.

Sebaliknya pergerakan para pasangan calon (paslon) juga tak begitu kelihatan. Hanya alat peraga yang banyak bertebaran, tetapi gerakan sosialisasi mereka di masyarakat hampir stagnan.

Penilaian kurang gregetnya pilgub 2018 diungkapkan nara sumber BKK yang ditemui berbeda.

Pengamat sekaligus Dekan FISIP Universitas Halu Oleo (UHO), Dr Bahtiar menilai pilgub 2018 ini situasinya agak dinamis berbeda dengan pilgub sebelumnya.

“Saya amati, adem ayam saja. Masyarakat kelihatan adem ayem. Pergerakan calon juga nyaris tidak kelihatan,” kata Bahtiar yang ditemui di gedung Dekan FISIP UHO, Selasa (5/12).

Menurutnya, situasi ini sangat dipengaruhi oleh keputusan DPP parpol dalam mengeluarkan surat keputusan yang sesuai format KPU.

“Sekarang kan yang mereka kantongi baru rekomendasi, belum ada surat keputusan. Bisa saja berubah,” katanya.

Realitasnya, pasangan Asrun – Hugua misalnya, sudah mengantongi surat rekomendasi dari tiga parpol, PAN, PDIP, dan PKS, serta mengklaim juga sudah mengantongi dukungan dari Gerindra, Hanura, PPP, dan PKB. Namun hingga saat ini belum berani menggelar deklarasi dan juga pergerakan di masyarakat masih berjalan.

Guru besar ilmu politik FISIP UHO, Prof H Eka Suaib menyatakan, kondisi ini bukti bahwa politik bukan lagi menjadi sesuatu yang subtansi bagi masayarakat Sultra.

“Ini meruapakan bukti bahwa masyarakat kita, tidak lagi menjadikan politik sebagai sesuatu yang wajib,” kata Prof Eka Suaib ditemui di ruang kerjanya, Selasa (5/12).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut biasanya disebabkan beberapa hal diantaranya fokus masyarakat yang lebih cenderung pada kesibukannya sehari-hari, seperti mencari nafkah untuk menutupi kebutuhan hidup.

“Masayarakat kita lebih fokus kerja, karena politik bagi mereka tidak memiliki dampak yang begitu siginfikan pada konteks perbaikan hidup,” jelasnya.

Kesadaran masyarakat, lanjut dia, juga menjadi salah satu faktor. Masyarakat sadar, jika terlalu fanatik bisa berdampak buruk pada dirinya, sementara jaminan perbaikan hidup tidak ada.

“Kondisi ini juga disebabkan tidak adanya riak yang muncul dari para figur. Mereka lebih memilih tenang dipermukaan,” tambahnya.

Tetapi, masih kata dia, kondisi tersebut hanya terjadi pada tingkatan tertentu. Sebab, pada tingkatan yang lebih tinggi riak tentu terjadi, seperti perebutan dukungan partai dan perebutan basis masa.

“Dua persoalan ini juga menjadi polemik yang tidak begitu nampak dipermukaan dan hanya menjadi konsumsi masyarakat pada tingkatan tertentu,” ungkapnya.

Untuk riak dikalangan masyarakat bawah, prediksi dia, juga pasti akan terjadi dan itu momentumnya ketika waktu pemilihan segera tiba. Hal ini dikarenakan, suhu politik yang telah meningkat.

“Riak itu pasti terjadi, meski saat ini belum tampak namun pada waktunya tetap akan terjadi,” pungkasnya.

Penilaian kurang geregtnya pilgub justru datang juga dari salah satu kandidat yang sempat meramaikan publik Sultra, LM Rusman Emba.

Dia sepakat pilgub Sultra kali ini kurang greget. “Saya juga heran, makin dekat pelaksanaannya tapi kok sepi-sepi saja. Padahal awal-awalnya begitu ramai,” kata Rusman dalam perbincangannya dengan jurnalis BKK di salah satu cofee shop di Kendari, Senin (4/12).

Menurut dia, posisi cagub yang diliputi masalah dan belum adanya surat keputusan dari DPP mempengaruhi dinamisasi pilgub.

Dia memprediksi bisa saja akan ada kejutan-kejutan menjelang waktu pendaftaran di KPU terkait variasi paslon.

“Politik ini kan dinamis dan berkembang terus. Tidak menutup kemungkinan pada saat pendaftaran di KPU nanti ada kejutan politik, bahkan keajaiban,” katanya.

Bagi dia situasi seperti ini cukup menikmatinya serta menjalani apa adanya.(cr5/lex)

To Top