Aktualita

BNNP Layani Rehabilitas 152 Pengguna Narkoba

Suasana diskusi tentang narkoba dengan tema “Mewujudkan generasi bangsa yang bebas dan bersih dari narkoba” yang berlangsung di Aula Kemenag Sultra, Rabu (22/11). Foto: IST

KENDARI, BKK – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulawesi Tenggara saat ini sedang memberikan pelayanan rehabilitasi bagi pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika baik klien sukarela dan klien terkait hukum sebanyak 152 orang.

Hal itu diungkapkan, Kepala Seksi Pencegahan BNNP Sultra, Mindrayatin SKM MKes saat menjadi nara sumber pada diskusi pemberantasan narkoba yang digelar Sultra Demo di Aula Kemenag Sultra, Rabu (22/11).

Mindrayatin yang berbicara dengan topik “Peran dan Strategi BNNP dalam Memutuskan Jaringan Mata Rantai Peredaran Narkoba”, menjelaskan, pihaknya terus berupaya melakukan pemberantasan narkoba sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Dia menyebutkan, BNNP Sultra telah melakukan 23 kegiatan dengan melibatkan masyarakat, instansi Kementerian, TNI, dinas provinsi, dinas kab/kota, kelompok masyarakat/swasta, lingkungan pendidikan. Kegiatanya berupa tes urin, rapat kerja, pengembangan kapasitas, pelatihan penggiat, bimbingan teknis, dan rapat konsolidasi.

“Sebagai upaya deteksi dini penyalahgunaan narkotika, BNNP Sultra melaksanakan tes urin yang diikuti 4.670 orang dengan hasil sebanyak 54 orang positif mengkonsumsi narkoba,” kata Mindrayatin.

Dia menambahkan, BNNP juga memberikan layanan pascarehabilitasi terhadap 98 mantan pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba.

Dia mengajak masyarakat agar turut serta dalam pencegahan dan pemberantasan narkoba, karena narkoba tidak bisa hanya diberantas BNNP dan kepolisian tapi membutuhkan keterlibatan semua stakeholders.

Sementara itu Kabag Bin Opsnal Polda Sultra, AKBP Jamaluddin menyatakan, jajaran Polda Sultra terus berupaya mencegah masuknya barang terlarang tersebut dengan cara mengawasi dengan ketat jalur transportasi darat, udara, dan laut.

“Tahun ini Polda Sultra melakukan pengungkapan kasus peredaran narkoba kebanyakan melalui jalur laut karena pengawasan di jalur tersebut agak minim,” kata AKBP Jamaluddin.

Jamaluddin juga menegaskan, dalam upaya pembertantasan peredaran narkoba membutuhkan kerjasama dengan seluruh instansi termasuk masyarakat.

“Sangat penting adanya kerjasama terhadap keluarga dan orang terdekat serta tetangga untuk memberikan informasi kepada pihak yang terkait agar tercipta kondisi yang lebih aman dan tentram,” katanya.

Dalam diskusi yang dipandu La Agustono ini juga menampilkan nara sumber dari Konselor Adiksi LAHA Sultra, Nirmawati.

Nirmawati menjelaskan, LAHA bekerjasama dengan BNNP memberikan pendampingan untuk mencegah dan menangani para pecandu narkotika yang benar – benar ingin sembuh atau bebas dari penyalahgunaan narkotika.

“Kebanyakan klien kami adalah penyalahguna yang terjebak menggunakan jenis narkotika karena pergaulan.

Awalnya hanya ingin coba–coba. Kami berharap agar para pecandu, atau penyalahguna narkotika (adiksi lain) yang sekiranya ingin sembuh harus berani berhenti menggunakannya,” kata Nirmawati.

Nirmawati menjelaskan, LAHA Sultra memiliki Out Drop In Centre (ODIC) yang ditujukan para penyalahguna zat adiktif yang ingin berhenti. Melalui ODIC ini, katanya, selain melakukan assestment juga merujuk klien yang sudah sangat parah tingkat ketergantungannya ke tempat rehabilitasi medis yang ada di Indonesia.

Sebelumnya kegiatan diskusi dengan tema “Mewujudkan generasi bangsa yang bebas dan bersih dari narkoba” dibuka Kabag Tata Usaha Kemenag Sultra, Drs Joko MPd.

Dalam sambutanya mewakili Kakanwil Kemenag Sultra dia mengatakan, narkoba merupakan masalah masyarakat yang sangat urgen, sehingga sangat dibutuhkan perhatian dan tanggung jawab penuh dari masyarakat dan pemerintah dalam upaya pencegahannya.

“Keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu kunci, karena para tokoh agama merupakan pembimbing serta penuntun masyarakat dalam menjalankan nilai-nilai agama mereka,” katanya.

Kegiatan diskusi diikuti sekitar 100 orang peserta, yang terdiri dari pelajar SMA/MA, mahasiswa, pimpinan organisasi kepemudaan (OKP), aktivis LSM dan masyarakat umum. (m1/lex)

To Top