Headline

Ironis, Ratusan Guru Agama Tak Fasih Mengaji

Kakanwil Kemenag Sultra, Dr Abdul Kadir MPd
“Kemenag Kota Kendari sudah lakukan pembinaan kriteria, sedang, mampu dan kurang mampu. Ada yang ditemukan hampir semua kurang mampu”

KENDARI, BKK – Ironis, berprofesi sebagai guru agama, tapi ternyata tak bisa mengaji. Itu terjadi bagi ratusan guru agama yang mengajar di sejumlah sekolah di Kota Kendari.

Fakta ini terungkap setelah Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sultra baru saja melakukan penilaian kepada seluruh pegawai negeri sipil (PNS) guru agama Islam di Kota Kendari.

Semua guru agama diundang lomba baca Alquran. Hasilnya, dari 190 guru agama, ditemukan sebanyak 107 orang tidak fasih alias tidak pintar membaca Alquran.

Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sultra Abdul Kadir mengaku, informasi ini diperolehnya semalam.

“Baru saya tahu tadi malam ada 107 orang tidak lancar mengaji,” ungkap Abdul Kadir saat ditemui di gedung DPRD Sultra, Senin (13/11).

Kadir mengaku, guru yang tidak fasih melafalkan ayat suci ini ditemukan mengajar di berbagai jenjang pendidikan di kota berjuluk Kota Bertakwa ini, mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA atau sederajat. Selain itu, usia mereka juga beragam. Ada yang baru berusia 40 tahun hingga sudah masuk masa pensiun, 60 tahun.

“Kemenag Kota Kendari sudah lakukan pembinaan kriteria, sedang, mampu dan kurang mampu. Ada yang ditemukan hampir semua kurang mampu,” katanya.

Dari penilaian itu, kata dia, yang masuk kategori nilai C atau kurang fasih, akan dilakukan pembinaan secara preventif. Bahkan, bagi guru yang dinilai usianya masih muda, akan dipending pembayaran tunjangannya.

“Kalau tidak fasih itu berarti soal tajwid dan mahraj-nya. Dari total 190 orang ada 107 bermasalah,” jelasnya.

Menurut Kadir, adanya guru madrasah yang tidak tahu baca Alquran ini akibat dari proses rekruitmen yang tidak mencantumkan syarat fasih membaca Alquran.

Selain itu, suplayer guru agama dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, turut menjadi masalah.

“Maka Kemenag meminta yang menjadi suplaiyer dari perguruan tinggi IAIN memperketat keluarnya mahasiswanya. Sebelum diizinkan ujian skripsi, maka mahasiswa itu harus memiliki sertifikasi memenuhi syarat lancar untik mengaji,” paparnya.

Sertifikat ini, kata dia, dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi yang dibentuk oleh perguruan tinggi dimaksud.
Dia menyebut, proses rekrutmen PNS di lingkup Kemenag adalah kewenangan Badan Kepegawaian Nasional.

“Petekrutan PNS ini di luar Kemenag. Kalau tes bukan baca Alquran, tapi pengetahuan umum dan kompetensi,” ujarnya.

Bagi guru yang dianggap sudah tua, Kemenag menekankan agar mereka tetap memperbaiki kinerja. Sedangkan yang masih muda, akan diberikan sanksi berupa penundaan pembayaran tunjangan sertifikasi.

“Kalau masih muda kami tidak tolerir. Kami juga perketat syarat jadi guru agama yang ditempatkan di sini,” jelasnya.

Kadir menjelaskan, dampak dari guru yang tidak bisa mengaji ini adalah minimnya pengetahuan yang ditransformasikan kepada peserta didik.

“Dampaknya tidak bisa mengaji, secara moril terbebani kalau bicara kebaikan,” tuturnya.

Penilaian terhadap guru agama ini baru dilakukan di tingkat Kota Kendari, ke depan Kemenag Sultra akan melakukan hal yang sama kepada seluruh kabupaten atau kota.

“Untuk tingkat provinsi, belum dilakukan. Tapi akan menjadi agenda ke depan. Tidak akan terlalu lama,” tuturnya.(mk6-mk9)

To Top