Pendidikan

Pemkab Kolaka Gagas Penggunaan Bahasa Mekongga di Sekolah

KOLAKA,BKK- Demi menjaga bahasa Mekongga dari kepunahan, Pemerintah Kabupaten Kolaka saat ini menggagas penggunaan bahasa daerah tersebut di sekolah-sekolah yang digunakan pada hari tertentu.

“Insya Allah dalam waktu yang tidak terlalu lama, akan keluar peraturan bupati tentang penggunaan bahasa daerah yang rencananya akan digunakan pada hari Kamis,” kata Asisten I Setda Kolaka H Muhammad Bakri, Kamis (9/11).

Penerapan bahasa daerah di sekolah pada tingkat SD dan SMP menurut Bakri, sebagai bentuk kepedulian Bupati Kolaka H Ahmad Safei pada budaya daerah setempat. Ini juga sekaligus yang tertuang dalam sembilan program prioritas pasangan Safei-Jayadin, dimana budaya, agama dan pendidikan merupakan program prioritas.

“Saat ini sementara dilakukan sosialisasi tentang gerakan terpadu pengembangan budaya kepada masyarakat,” katanya.

Mantan Kadis kehutanan Kolaka ini mengungkapkan, peraturan bupati tentang penggunaan bahasa daerah merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam melestarikan nilai-nilai budaya di Bumi Mekongga. Termasuk penggunaan bahasa daerah di sekolah.

Menanggapi hal ini, Tono motuono (orang tua kampung) Tikonu Amran Arsyad menyambut baik program Bupati Kolaka itu. Apalagi dengan akan keluarnya Perda penggunaan bahasa daerah di sekolah-sekolah.

“Dengan keluarnya perda penggunaan bahasa daerah nanti, semakin menjelaskan identitas bumi Mekongga kabupaten Kolaka sebagai daerah budaya. Kami sangat mendukung langkah Bupati Kolaka,” katanya.

Amran mengaku saat ini penggunaan bahasa daerah Mekongga semakin jarang didengar, apalagi pada anak-anak saat ini. Sehingga, jika tidak cepat dilestarikan melalui kebijakan pemerintah setempat dalam bentuk Perda, maka ke depan bahasa daerah Mekongga akan hilang dari Indonesia dan tinggal kenangan.

“Saat ini penggunaan bahasa daerah Mekongga sudah mulai jarang didengar, apalagi anak-anak saat ini sudah tidak tahu berbahasa daerah Mekongga. Kita baru mendengar kalau orang-orang tua yang bicara, ataukah pada saat pesta perkawinan adat Mekongga karena menggunakan bahasa daerah,” kata Amran. (r3/nur)

To Top