Lingkar Sultra

Petani Kakao di Kolut Didampingi Tiga Profesor

Luis/BKK
Bupati Kolaka Utara H Nur Rahman Umar saat membawakan sambuatan pada acara sosialisasi program revitalisasi tanaman kakao.

LASUSUA, BKK – Salah satu program pembangunan di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) saat ini yakni ekokomi kerakyatan melalui revitalisasi kakao. Untuk mensukseskannya, berbagai upaya dilakukan pemerintah setempat, salah satunya dengan mendatangkan tiga profesor Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.

Tiga ptofesor tersebut yakni Prof Yunus yang merupakan ahli bibit kakao, kemudian Prof Amir Yassi ahli holtikultura, dan Prof Judes Jude ahli budidaya tanaman. Ketiganya akan menjadi pendamping para petani di Kolut dalam program revitalisasi kakao atau peremajaan.

Bupati Kolut H Nur Rahman Umar mengatakan, kehadiran ketiga pakar ini untuk menjadi guru bagi petani dalam mensukseskan program ekonomi kerakyatan yang bertumpuk pada sektor pertanian.

“Dengan kehadiran ketiga guru besar ini yang ahli dalam bidang pertanian, diharapkan target program revitalisasi kakao dapat tercapai dan mengembalikan masa keemasan kakao sebagai komoditi nomor satu di Kolut,” kata Nur Rahman saat menggelar sosialisasi program revitalisasi tanaman kakao tahun anggaran 2018 yang dirangkaikan dengan Muscab Asosiasi Pemerintah Desa (Apdesi), Senin (6/11), di Desa Watuliu.

Menurut Nur Rahman, dengan keberhasilan revitalisasi kakao, uang yang akan beredar di Kolut dapat mencapai Rp 3,6 triliun setiap tahunya. Bahkan dengan bantuan dan partisipasi ketiga profesor yang ahli dalam bidang pertanian tersebut, maka dimungkinkan uang akan terputar tiga kali lipat.

“Dari proposal dan pemaparan ilmiah serta pengalaman ketiga orang profesor ini, hasilnya dari keberhasilan revitalisasi kakao dalam masa tertentu akan mencapai Rp 10,8 triliun setiap tahunya,” jelasnya.

Nur Rahman mengingatkan semua jajarannya untuk bersama mensukseskan program ekonomi kerakyatan itu dengan menjemput bola. Jangan justeru menjadikannya sebagai lahan proyek.

“Masyarakat harus bisa memahami kegiatan revitalisasi kakao ini bukan proyek. Namun murni bentuk keperdulian kami akan kesejateraan petani demi kejayaan Kolut,” ujarnya.

Masyarakat, lanjutnya, jangan lagi melihat program revitalisasi kakao ini seperti proyek revitalisasi kakao tahun sebelumnya. Petani terlena dengan bantuan sehingga ketergantungan dengan APBN atau APBD.

“Ada pemahaman tidak usah kita bergerak sebab akan ada lagi anggaran yang akan turun. Tolong pemahaman itu dihilangkan dengan memamfaatkan niat baik kami maka yang rugi masyarakat,” tegasnya.

Nur Rahman menambahkan, pihaknya akan terus melakukan terobosan dan inovasi untuk mensejaterakan masyarakat. Sehingga, para kepala desa di Kolut juga ia imbau agar dalam mengangarkan dana desa (DD) jangan hanya fokus pada pembagunan fisik namun juga pada pemberdayaan. (cr11/nur).

To Top