Bisnis & Ekonomi

Transaksi Non Tunai di Sultra Masih Terkendala Jaringan

RIA/BKK
Bahtiar Zaadi

BKK, KENDARI– Transaksi non tunai terus gencar dikampanyekan perbankan dan industri berbasis online. Di Sulawesi Tenggara sendiri, transaksi non tunai juga sudah berjalan, namun masih terkendala oleh jaringan telekomunikasi.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Bidang Manajemen Intern dan Sistem Pembayaran LM, Bahtiar Zaadi mengatakan, infrastruktur telekomunikasi menjadi penopang utama dari transaksi non tunai. Hanya saja di Sultra, masih banyak daerah yang belum terkaver. Terutama di pelosok dan kepulauan.

Namun Bahtiar optimistis transaksi non tunai akan menjadi pilihan utama masyarakat Sultra, seiring meluasnya arena cakupan jaringan telekomunikasi.
“Memang sekarang masih ada kalangan masyarakat kita yang merasa nyaman berbelanja dengan memegang uang tunai. Tapi nanti mereka akan bergeser ke non tunai setelah memahami keuntungannya,” kata Bahtiar yang ditemui di ruang kerjanya, akhir pekan lalu.

Adapun keuntungan yang diperoleh masyarakat dari transaksi non tunai, utamanya soal keamanan. Masyarakat tidak perlu lagi membawa uang tunai sehingga tidak perlu takut mengalami kejadian kehilangan uang.

Selain itu, transaksi non tunai lebih menjaga nilai simpanan masyarakat. “Biasanya kalau belanja, ada yang harganya sampai ke pecahan terkecil. Kalau pakai uang tunai, kembaliannya dibulatkan. Tapi kalau pakai transaksi nontunai, uang yang keluar sesuai dengan harga barang yang tertera. Jadi
semua serba otomatis transaksi langsung masuk ke rekening dengan nilai sekecil apa pun pecahannya,” ujarnya.

Keuntungan lainnya, masyarakat tidak perlu kehilangan waktu dan mengeluarkan ongkos ekstra seperti biaya bahan bakar. Hal ini sudah dirasakan manfaatnya melalui belanja online.

Dia menjelaskan, transaksi non tunai ini tidak saja menguntungkan masyarakat. Tetapi dalam skala lebih luas, menguntungkan tatanan ekonomi mengingat belanja rumah tangga atau pengeluaran masyarakat masih menjadi pendorong utama roda ekonomi.

“Bayangkan kita lihat sekarang informasinya di Indonesia, dalam satu bulan transaksi Real-Time Gross Settlement (RTGS) sampai 10.000 triliun dalam saty bulan rata-rata. Memang untuk saat ini transaksi non tunai yang diselenggarakan oleh industri masih kecil sekitar dibawah 10 persen,” tuturnya.

Untuk transaksi di atas Rp 100 juta, memang masih menggunakan RTGS. Sementara transaksi di bawah Rp 100 juta, sudah bisa menggunakan ATM, mobile banking atau kliring.

Transaksi non tunai juga mulai diterapkan dalam sistem keuangan pemerintahan daerah. Hal ini akan membuat keuangan pemerintah lebih transparan. Sebab seluruh anggaran, khususnya belanja daerah, bisa terpantau dari perencanaan hingga eksekusi di lapangan. Dengan kata lain, peluang untuk korupsi kini semakin kecil. Sebab barang-barang yang akan dibeli oleh pemerintah, harganya sudah tertera jelas.

Begitu juga dengan penyaluran bantuan, sudah melalui rekening dan dicairkan langsung oleh si penerima. Hal ini akan mengurangi aksi pemotongan oleh oknum yang nakal.

Untuk Bank Indonesia sendiri, transaksi non tunai akan membuat pengeluaran negara lebih efisien. BI tidak perlu lagi mencetak uang dalam jumlah yang besar jika masyarakat sudah lebih memilih transaksi non tunai.

“Tiap tahun, untuk biaya pencetakan yang saja bisa sampai Rp 1,3 triliun,” ujarnya.

Dia yakin, transaksi non tunai akan menjadi tren di masyarakat Sultra, dalam beberapa tahun ke depan. “Mau tidak mau, siap tidak siap, kita dengan arus globalisasi yang semakin cepat, transformasi dari tunai ke non tunai itu tidak bisa terhindarkan. Yang harus dipahami oleh masyarakat, transaksi non tunai ini sebenarnya lebih menguntungkan,” tutupnya (m3/b/aha)

To Top