Opini: Menjawab Kekhawatiran – Berita Kota Kendari
Aneka

Opini: Menjawab Kekhawatiran

DOK PRIBADI
Hanna

Catatan Pinggir dari English Expo 2017

Di akhir September setiap tahun mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris FKIP UHO menggelar English Expo suatu kegiatan yang berskala nasional. Untuk tahun ini pelaksanaanya diadakan dengan tiga kegiatan inti yakni, debat bahasa Inggris, story telling dan public speaking, ternyata kegiatan tahunan itu “menjawab kekhawatiran”.

Tulisan ini mencoba memberikan jawaban terhadap kekhawatiran masyarakat terhadap pembelajaran bahasa Inggris di sekolah.

Oleh
Hanna*

Pendidikan merupakan salah satu proses penanaman pengetahuan, keterampilan dan sikap terhadap apa yang sedang pelajari. Dalam pengajaran bahasa misalnya, pengajaran diarahkan pada keterampilan yakni keterampilan reseptif yakni mendengar dan membaca dan kedua keterampilan produktif yakni berbicara dan membaca. Dalam kurikulum 2013 keterampilan ini diajarkan dalam bentuk genre.

Kondisi geografis kebahasaan Sulawesi tenggara memang membutuhkan kejelian guru untuk menghindari terjadinya campur kode atau alih kode dalam berbahasa Inggris yang mengakibatkan terjadinya interferensi bahasa, baik dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris maupun dari bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia atau bahasa daerah.

Hal ini dimungkinkan terjadi akibat rata-rata anak didik kita berkategori Monolingual, yang memahami minimal tiga bahasa, yakni bahasa daerah, Indonesia dan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia memang tidak sama posisinya dengan pembelajaran bahasa Inggris di Malaysia yakni bahasa kedua, sedangkan bahasa Inggris di Indonesia diajarkan sebagai bahasa asing pertama yang diajarkan, artinya bisa saja menambahkan bahasa asing lainnya, seperti bahasa Arab, Jerman Ferancis atau bahasa Cina selama itu memenuhi kriteria.

Di dunia global dewasa ini, tidak bisa dipungkiri bahwa pembelajar bahasa Inggris merupakan bagian dari tuntutan, di mana siswa diharuskan untuk mengusai bahasa Inggris baik berbicara (spoken) maupun dalam menulis (written) karena seperti fakta yang ada dalam masyarakat sekarang ini bahwa bahasa Inggris digunakan hampir di semua bidang kehidupan.

Terlebih pada dunia kerja seorang pelamar kerja pada umumnya dipersayaratkan bisa berbahasa Inggris baik aktif maupun pasif, jadi sangatlah tepat apabila pengajaran bahasa Inggris yang tepat akan berdampak baik pada siswa itu sendiri. Namun demikian permsalahan pembelajaran bahasa Inggrsi sampai saat ini masih dianggap belum berhasil.

Kondisi di masyarakat masih banyak yang mengklaim bahwa pembelajaran bahasa Inggris masih kaku, belum memuaskan dan bahkan persepsi siwa terhadap bahasa Inggris sangat kurang. Komentar dari masyarakat bisa saja terjadi jika dipandang dari sudut makro yang menurut mereka salah satu penyebabnya adalah teknik dan pendekatan yang digunakan perlu disempurnakan, betulkah seperti itu?

Perlu penulis kemukakan di sini bahwa teknik pembelajaran bahasa merupakan cara guru menyampaikan materi yang telah disusun sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa sesuai dengan pendekatan yang dianut.

Artinya teknik yang digunakan oleh guru bergantung pada kemampuan guru mencari akal atau siasat sesuai dengan keadaan siswa sebagaimana telah dicantumkan ke dalam silabus atau rencana program pembelajaran. Tentu saja, salah satu aspek yang menjadi pertimbangan guru adalah situasi kelas, lingkungan, kondisi siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi-kondisi yang lain.

Dalam proses pembelajaran bahasa tentu bukan saja aspek teknik semata yang perlu diperhatikan namun guru perlu membangun asumsi antara lain; (1) pembelajaran bahasa didasari oleh pandangan bahwa belajar berbahasa melalui pembiasaan artinya berusaha membiasakan dan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi.

(2) pembelajaran bahasa didasari bahwa belajar berbahasa, berarti berusaha untuk memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan artinya akuisisi perlu menjadi perhatian.

(3) pembelajaran bahasa didasari pendapat bahwa dalam pembelajaran bahasa, yang harus diutamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah untuk menuju pemahaman kognitif bahasa sebagai carier of knowledge .

Terkait dengan English Expo 2017 yang dihadiri oleh siswa SMP dan SMA se Sulawesi Tenggara, dan beberapa perguruan Tinggi dari Sulawesi Selatan, yang disponsori oleh pihak UHO, IKA Alumni Bahasa Inggris, Telkomsel, Jills, Yudistira, gramedia, Dlux, teh botol, sambas, Emwe, Rumah makan srikandi, dan GekaEm ini, kehawaitran masyarakat tentang pembelajaran bahasa Inggris yang kaku, belum memuaskan dan persepsi siswa tentang bahasa Inggris yang membosankan sebagaimana saya tulis di atas, ternyata “kekhawatiran itu terjawab”.

Betapa tidak, siswa SMP misalnya telah mampu melakukan telling story dengan baik, entah apakah itu hapalan atau tidak, entah itu karena proses latihan di sekolah, tapi yang jelas siswa – siswa kita dari SMP mampu memukau seluruh hadirin yang hadir, demikian juga pada public speaking siswa-siswa SMP juga dari beberap SMP di Sulawesi Tenggara mampu berbicara dengan baik, accuracy dan fluency sebagaimana penutur asing, walaupun memang tidak persis sama, tapi hampir menyerupai dengan penutur asing dari segi pengucapan.

Yang tidak kalah menariknya adalah lomba debat untuk siswa-siswa SMA begitu memukau penonoton dengan kemampuanya berekspressi saat menyampaikan pandangannya terhadap issu yang diberikan. Mereka hanya diberikan waktu 10 menit setelah pencabutan isu lalu mereka diminta untuk memberikan tanggapan terhadap isu itu, apakah mereka masuk dalam tim yang terdiri dari dua orang perkelompok setuju atau menolak terhadap isu.

Tiap orang hanya diberikan waktu 7 menit dan rata-rata mereka menyampaikan pandangannya antara 6 – 7 menit, artinya siswa-siswa kita telah disiplin dalam berbicara, baik disiplin dalam penggunaan waktu, diksi dan sistim debat sudah teratur, yang paling hebat lagi mereka berbicara tanpa teks sesuai dengan issu yang diberikan dalam bahasa Inggris yang baik.

Simpulan tulisan ini adalah bahwa kekhawatiran masyarakat tentang pembelajaran bahasa Inggris terjawab pada English Expo 2017.

(*)Penulis merupakan pemerhati pembelajaran Bahasa Inggris

To Top