Yayasan Kalla Mampu Tanami 100 Hektar dalam Satu Jam – Berita Kota Kendari
Bisnis & Ekonomi

Yayasan Kalla Mampu Tanami 100 Hektar dalam Satu Jam

SUMARDIN/BERITA KOTA KENDARI
Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), Dr Hilman Nugroho menyerahkan piagam penghargaan Penanaman Pohon yang ditandatangani Presiden RI Joko Widodo kepada Wakil Bupati Konsel, Arsalim Arifin, beberapa waktu lalu.

Pulihkan Hutan Sultra dengan Metode Air Seeding

BKK, KENDARI– Yayasan Kalla terus menunjukkan komitmennya dalam upaya pemulihan kawasan hutan yang kritis melalui kegiatan reforestasi. Di Sulawesi Tenggara, reforestasi melalui melalui proyek EQSI ini dilakukan di kawasan hutan tiga kabupaten, yakni Konawe, Kolaka Timur (Koltim) dan Konawe Selatan (Konsel), sejak akhir tahun lalu.

Yang menarik, Yayasan Kalla menggunakan metode air seeding atau penaburan bibit melalui pesawat udara. Metode ini pun bisa mempercepat proses penanaman bibit.

Direktur Pelaksana Program Rochmat Djatmiko menjelaskan, metode air seeding merupakan solusi alternatif untuk menanggulangi luas lahan kritis yang terus meningkat.

“Rehabilitasi hutan dan lahan kritis dengan metode air seeding sangat sesuai untuk lokasi dengan akses yang terbatas serta memiliki topografi curam, sehingga aktivitas penanaman dengan tenaga manusia sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Melalui air seeding, penanaman pada lahan seluas 100 hektar mampu dilakukan dalam waktu sekitar satu jam,” ujarnya dalam konferensi pers di Kendari, Kamis (21/9).

Dengan dukungan dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan Millenium Challanges Account – Indonesia (MCA-Indonesia) melalui proyek green prosperity, Yayasan Kalla menarget pemulihan kawasan hutan kritis seluas 7.000 Ha. Dari 7.000 hektar yang akan direhabilitasi EQSI, 5.500 hektar direhabilitasi melalui metode air seeding.

Adapun jenis tumbuhan yang benihnya ditabur yakni sengon laut, sengon buto, akasia mangium, gelina, kaliandra merah dan kaliandra putih. Khusus untuk kawasan hutan lindung hanya ditaburi jenis kaliandra yang merupakan tumbuhan perintis dan tidak berpotensi untuk dipanen kayunya sebagai hasil akhirnya. Itu sudah sesuai dengan hasil survei dan usulan masyarakat yang dirampungkan melalui workshop di tingkat provinsi.

Dalam perspektif teknis, program reforestasi yang dilaksanakan oleh Yayasan Kalla telah membuka wawasan bagi pemerintah akan perlunya sebuah terobosan inovatif untuk mengatasi permasalahan lahan kritis akibat dari degradasi hutan. Memadukan metode air seeding dan penanaman manual dapat mengurangi biaya.

Ia menjelaskan, lahan kritis dan rusak yang perlu dihijaukan kembali menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan adalah seluas 24,3 juta hektar. Luas area yang luar biasa sulit, bila harus diatasi oleh pemerintah sendiri.

“Upaya yang dilakukan oleh Yayasan Kalla melalui kemitraan pendanaan bersama MCA Indonesia mendapat sambutan sangat positif baik oleh pemerintah pusat maupun Pemda Sultra,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), Dr Hilman Nugroho mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih atas kerja sama masyarakat dan swasta yang dikelola Yayasan Kalla untuk mendukung upaya reforestasi atas lahan kritis di Sultra.

“Di lapangan, program reforestasi termasuk penanaman manual di beberapa wilayah, dilakukan melalui strategi kemitraan yang menggalang partisipasi hampir semua pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat penting di daerah tersebut,” pungkasnya. (p12/b/aha)

To Top