Lingkar Sultra

Jangan Bebankan Pembelian Obat di Luar pada Pasien KIS dan BPJS

IST
Ilustrasi

BKK, RAHA– Resep obat dari dokter yang ternyata ditebus di apotik milik dokter itu sendiri atau apotik yang bekerja sama dengannya, sudah menjadi rahasia umum di Muna. Yang ironis, hal ini juga kadang dialami oleh pasien pemegang Kartu Indonesia Sehat atau BPJS Kesehatan.

Padahal, pemerintah sudah menanggung pembelian sebagian besar obat-obatan yang dibutuhkan oleh pemegang KIS dan BPJS. Tetapi pasien tetap tidak berdaya dan tetap menebus resep obat di luar RS, kendati harganya sangat mahal.

Permasalahan ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat di DPRD Muna, yang masih berkaitan dengan kasus kematian bayi Unyil di RSUD Muna, beberapa waktu lalu.

Sebelum dioperasi, Dr T yang menangangi persalinan Reny, Ibu Unyil, ternyata memberikan resep obat yang harus ditebus di salah satu apotik di depan SMP 2 Raha senilai Rp 1,9 juta.

“Bapaknya Unyil ini pemegang kartu BPJS. Tapi saat istrinya mau dioperasi, malah dikasih resep untuk beli obat di apotik di luar RSUD Raha. Parahnya obat itu hanya ada di apotik milik sang dokter,” kata Machdin, kerabat korban di RDP tersebut.

Ketua Komisi III DPRD Muna, Awaluddin menegaskan pemegang kartu BPJS dan KIS tidak boleh dibebankan untuk membeli obat di luar RSUD Raha. Sebab itu sudah ditanggung pemerintah.

Apalagi, tambah politikus PAN ini, Pemkab Muna sudah menggelontorkan dana sebesar Rp 2 miliar untuk pengadaan obat-obatan di RSUD Raha.

“Tidak ada alasan bagi dokter di RSUD Raha untuk memberikan resep bagi pasien pemegang BPJS dan KIS untuk membeli obat di luar RSUD Raha. Tiap tahun kita anggarkan Rp 1,5 miliar untuk obat-obatan. Bahkan kita tambah lagi Rp 500 juta. Semua anggaran ini untuk pembelian obat obatan generik dan katalog. Kita akan minta pertanggungjawaban pihak RSUD Raha akan hal ini,” kata Awaluddin yang memimpin RDP tersebut.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur RSUD Raha dr Agus Sutanto menjelaskan pengadaan obat-obatan di RSUD Muna mengacu pada kondisi umum penyakit yang ditangani.

“Obat di Rumah Sakit itu ada, siapa yang bilang tidak ada. Kalau masalah pengadaan obat itu berdasarkan pada penyakit yang ada sekarang,” jelasnya.

Kalau pun ada pasien yang diberikan resep yang harus ditebus di luar RS, itu menurutnya situasional. Dalam artian, tidak semua pasien dibebankan hal yang sama.

“Mungkin saja menurut dokternya, pasien butuh obat itu,” jelas dr Agus. (r1/c/aha)

To Top