Pertumbuhan Ekonomi Sultra Masih Dinikmati Segelintir Orang – Berita Kota Kendari
Bisnis & Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Sultra Masih Dinikmati Segelintir Orang

DOK/BKK Prof Dr Azhar Bafadhal

BKK, KENDARI– Pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tenggara memang selalu di atas rata-rata nasional. Bahkan pada triwulan kedua, bisa menembus 7,03 persen dan menjadikan Sultra sebagai provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di seluruh Indonesia.

Hanya saja, meski kondisinya demikian bagus, tetap saja menimbulkan pertanyaan apakah pertumbuhan ekonomi di Sultra sudah dirasakan oleh banyak orang.

Menanggapi pertanyaan ini, Guru Besar Ekonomi Pertanian dari Universitas Halu Oleo, Prof Dr Azhar Bafadhal mengakui selama empat tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi di Sultra memang tidak pernah lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata 5 persen.

“Tapi itu hanya bicara pertumbuhan ekonomi semata. Namun apakah semua lapisan masyarakat sudah merasakan dampaknya, itu yang memang harus kita pertanyakan. Karena jangan sampai pertumbuhan ekonomi kita yang bagus itu, masih dinikmati segelintir orang,” kata Azhar Bafadhal kepada Berita Kota Kendari, di Gedung Pascasarjana UHO, Kendari, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, ekonomi itu digerakkan oleh empat sektor. Yakni konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi dan ekspor impor. Jika yang menggerakkan ekonomi adalah belanja rumah tangga, itu berarti pertumbuhan ekonomi sudah bisa dirasakan oleh masyarakat.

Namun jika yang menggerakkannya di luar itu, maka itu artinya pertumbuhan ekonomi belum dinikmati sampai lapisan ke bawah. “Kalau yang menggerakan ekonomi itu adalah investasi dari perusahaan besar semata, maka yang lebih banyak menikmati adalah kalangan pemilik modal. Memang ada juga dari (gaji) pekerja, tapi sangat sedikit,” katanya.

Untuk Sultra sendiri, Azhar Bafadhal menganggap pertumbuhan ekonominya masih digerakkan oleh sektor pertanian. Baik dari sisi PDRB maupun tenaga kerja, pertanian lah merupakan penyumbang terbesar untuk perekonomian.

Yang kemudian jadi permasalahan, tambah dia, apakah pertumbuhan ekonomi ini sudah dinikmati oleh kalangan petani. Selaku akademisi yang konsen meneliti ekonomi pertanian di Sultra, Azhar berkeyakinan itu belum terjadi.

Para petani di Sultra, hingga saat ini tidak berdaya terhadap pihak luar. Bagaimana pun bagusnya harga komoditas pertanian di pasaran, para petani tidak bisa menikmatinya.

Ada banyak persoalan yang menyebabkan petani sulit menikmati hasil kerjanya, sekalipun sektor pertanian menyumbangkan pertumbuhan ekonomi yang begitu besar.

Pertama kata dia, petani kita masih terjebak dalam sistem kredit dari para spekulan atau yang biasa disebut ijon. Saat musim tanam dimulai, petani harus meminjam modal dari para pedagang untuk pengadaan bibit, pupuk dan keperluan lainnya, termasuk kebutuhan rumah tangganya.

Saat panen, petani tidak bisa berbuat banyak karena sudah terlanjur terlilit hutang modal. Sehingga pedagang atau spekulan pun leluasa menetapkan harga saat panen.

Terbatasnya keuntungan saat panen, jika tidak bisa dikatakan hanya kembali modal, membuat petani sulit melakukan reinvestasi pada musim tanam berikutnya. Yang terjadi, para petani kembali mengutang.

“Jadi ini semacam lingkaran setan. Petani tidak berdaya masuk ke sistem pasar yang memang rantainya sangat panjang untuk sampai ke sana. Mereka hanya berhenti sampai di spekulan atau pedagang. Jadi kalau harga naik di pasaran, bukan mereka yang menikmati. Tapi pedagang dan spekulan itu,” tambahnya.

Azhar yang menjabat sebagai Wasekjen Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia ini mengatakan, untuk mengatasi masalah ini, mau tidak mau pemerintah memang harus turun tangan. Dan caranya pun harus keras.

“Rantai distribusi pertanian ini yang harus dipangkas. Harus dengan cara keras karena yang merasakan nikmatnya sebagai spekulan komoditas pertanian tentu akan melakukan segala cara untuk mempertahankan keuntungan yang sudah lama mereka nikmati,” katanya.

Langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah meningkatkan insentif bagi pelaku usaha pertanian. “Bagaimanalah upaya pemerintah membuat situasi agar petani tetap nyaman, menikmati, mau beraktivitas dengan kondisi yang diciptakan pemerintah itu,” katanya.

Dia mencontohkan Thailand adalah negara yang sangat memperhatikan kesejahteraan petaninya. Ketika harga komoditas pertanian naik di pasaran, bisa dipastikan petani akan ikut menikmatinya.

“Misalnya (saat panen) harga tebu Rp 5.000 per kg. Lalu harga naik di pasar. Petani akan mendapatkan lagi keuntungan. Jadi tata niaganya sudah diatur sedemikian rupa, yang menjamin petani ikut menikmati harga di hilir,” ujarnya.

Selain itu, Thailand juga sangat peduli dengan penelitian pertanian dari para akademisi. Jika ada yang berhasil menemukan varietas unggulan, Raja Thailand akan membeli hak ciptanya, lalu memproduksinya secara massal. Bibitnya kemudian dibagikan secara gratis kepada petani.

“Perhatian seperti ini membuat para akademisi di Thailand benar-benar bersemangat melakukan penelitian. Karena mereka tahu jika berhasil, usaha mereka akan dihargai,” kata Prof Azhar yang pernah melakukan studi banding di Thailand.

Meski demikian, Azhar tetap mengapresiasi pemerintah yang saat ini nampak berupaya keras memajukan sektor pertanian. Semangat ini seharusnya diimbangi oleh pemerintah provinsi dan kabupaten.

“Kalau ingin pertumbuhan ekonomi di Sultra dirasakan masyarakat atau pelaku usaha di bawah, dorong ekonomi pertanian. Karena pertanian kitalah yang dominan di Sultra. Sekitar 30 persen pertumbuhan ekonomi itu ditopang oleh sektor perekonomian,” tandasnya. (aha)

To Top