Headline

Warga Talodo Tutup Akses Angkutan Bibit Sawit

ABDUL RAHIM/BERITA KOTA KENDARI
BEGINILAH kondisi bibit kelapa sawit milik PT Asri Rejeki Indonesia yang terlantar di jalur menuju kawasan penanaman milik perusahaan, di Desa Talodo, Kecamatan Lalolae, Kolaka Timur. Sudah tiga hari ini masyarakat menutup akses jalannya untuk angkutan bibit sawit perusahaan tersebut.

BKK, TIRAWUTA- Warga Desa Talodo, Kecamatan Laloae, Kolaka Timur menutup jalan desa khusus untuk truk pengangkut bibit sawit milik PT Asri Rejeki Indonesia. Aksi yang sudah digelar sejak awal pekan ini pun mengakibatkan sekitar seribuan bibit kelapa sawit terlantar di pintu jalur menuju lahan penanaman milik perusahaan itu.

Kepala Desa Talodo, Sautia menjelaskan, penutupan jalan tersebut terpaksa dilakukan karena warga kecewa terhadap PT Asri yang menggunakan jalan desa sebagai akses masuk ke kawasan perkebunannya. Masalahnya, jalan tersebut dibangun dengan dana desa dan dikhawatirkan akan rusak.
Tapi bukan hanya itu masalahnya.

Menurut Sautia, pihak PT Asri juga belum menyelesaikan persoalan lahan yang dibeli dari warga. “Saya tidak akan pernah mengijinkan siapapun untuk membuka kembali akses jalan ini sebelum mereka memperlihatkan peta global pembelian lahan yang kami inginkan,” kata Sautia kepada Berita Kota Kendari, Kamis (15/9).

Dia menjelaskan, pihaknya menuntut peta global lantaran pembelian lahan masyarakat yang tumpang tindih. Hanya peta global itu yang bisa menjelaskan di mana titik persoalannya.

Dikonfirmasi terpisah, Humas PT Asri Rejeki Indonesia, Saiful membenarkan angkutan perusahaan melewati jalan Desa Talodo. Namun dia berdalih itu dilakukan lantaran akses jalan yang disiapkan masih dalam tahap perbaikan.

“Jalur tengah sementara diperbaiki karena rusak. Kami yakin Bu Kades menutup jalan itu untuk sementara waktu saja,” ujarnya saat dihubungi viaseluler.

Terkait peta global yang diminta pihak desa, Saiful menegaskan pihaknya tidak pernah menolak. Malah dia menuding Kades Talodo hanya menjadikan peta global itu sebagai akal-akalan.

“Saya sudah telepon Bu Desa, saya suruh ambil peta global pembelian yang diminta di kantor. Namun HP-nya Ibu Desa tidak aktif. Saya harus luruskan ini kepada teman-teman media bahwa apa yang dituduhkan bahwa saya tidak mau kasih peta global pembelian, itu tidak benar,” ungkap Saiful.

Lebih lanjut dia katakan, pihak perusahaan tidak akan mungkin melakukan transaksi pembelian lahan tanpa sepengetahuan pemerintah daerah, baik camat maupun sekretariat. Dia bahkan berani menjamin Bupati Koltim juga sudah tahu tentang investasi perkebunan sawit tersebut.

“Artinya, dalam hal ini Bupati pastinya juga mengetahu adanya perkebunan kelapa sawit di Tinondo, dari proses pembelian lahan sampai pengolahan. Bupati juga tahu itu,” kuncinya. (cr8/c/aha)

To Top