Government

Infrastruktur Perhubungan di Sultra Masih Minim

IST
Ilustrasi

Hado: Jika Menggunakan Cara Jawa, Sultra Ketinggalan Terus

BKK, KENDARI – Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr Ir H Hado Hasina MT menyatakan, sudah 72 tahun Indonesia merdeka, tapi infratsruktur perhubungan masih minim dan masih banyak yang tidak memenuhi syarat terkait keselamatan, keamanan, dan kenyamanan.

“Negara kita ini sudah merdeka 72 tahun, tapi hingga saat ini kita belum punya terminal tipe A, dan terminal tipe B baru ada tahun 2017 ini,” kata Hado Hasina menjadi nara sumber pada diskusi Forum Jurnalis Sultra (FJS) bertajuk “Dukungan Infrastruktur dalam Pembangunan Desa di Sultra”, di Hotel Grand Clarion Kendari, Rabu (23/8).

Demikian pula infrastruktur perhubungan laut. Hado yang juga mantan Kadis PU dan Sekda Butur ini menjelaskan, Sultra sebagai wilayah kepulauan seharusnya memerlukan minimal 53 pelabuhan penyeberangan untuk mengkoneksi antardaerah, tapi hingga saat ini baru terbangun 14 pelabuhan penyeberangan.

Hado memaparkan, Sultra memiliki 351 pulau, dimana dari jumlah tersebut 89 pulau besar dan 260 pulau kecil yang mayoritas belum berpenghuni.
“Bagaimana kita menciptakan konektivitas dari ratusan pulau ini? Membutuhkan lompatan-lompatan agar bisa ada kemajuan,” katanya.

Sejak dilantik sebagai Kadis Perhubungan, Hado Hasina membuat gagasan dengan mewujudkan Sistem Transportasi Nasional (Sistranas) dalam Tataran Transportasi Wilayah (Tatrawil) Sultra. “Ini sudah ada regulasi melalui Peraturan Gubernur (Pergub), dan insha Allah akan dibuatkan perdanya,” kata Hado.

Sesuai dengan Tatrawil ini, kata Hado, dia menciptakan tagline Dishub Sultra “merangkai pulau menyambungkan Sulawesi Tenggara”.

Menurut Hado yang juga alumni Doktor UNJ, dalam membangun infrastruktur perhubungan di Sultra tidak bisa menggunakan pendekatan seperti di daerah Jawa. “Kalau di Jawa membangun pelabuhan harus jelas suplainya. Tapi kalau kita di Sultra tidak mungkin seperti itu, kalau menunggu suplai maka tidak akan pernah akan bisa dibangun, karena penduduk kita masih sedikit,” katanya.

Sehingga, kata Hado, dalam membangun di Sultra perlu lompatan-lompatan dan keberanian sehingga bisa memburu ketertinggalannya. “Jadi kita bangun dulu baru kita evaluasi suplainya,” kata Hado.

“Makanya orang-orang di Jakarta mestinya menjadi perhatian hal-hal seperti ini,” tambahnya.

Dia menceritakan, saat membangun membangun bandara Matahora bersama Bupati Wakatobi saat itu Hugua, pemerintah pusat tidak yang menyetujuinya. Kareka mereka beranggapan, siapa yang mau pakai itu bandara tersebut, sedangkan dua bandara lain di Sultra saat itu terbengkalai.

“Tapi saya dengan Pak Hugua meminta Kementerian Perhubungan hanya memberikan izin dan kami yang biayai proses perizinannnya. Karena membangun bandara tidak seperti membangun jalan. Jangan kasih anggaran, kasih kami saja izin, biar kami bangun sendiri,” kata Hado menirukan penyampaiannya kepada Dirjen Perhubungan Udara saat itu.

Setelah izin keluar, akhirnya Pemkab Wakatobi membangun bandara Matahora dengan dana APBD murni. Nanti setelah panjang bandara mencapai 900 meter barulah pemerintah pusat mengucurkan dananya melalui APBN.

“Ada dua bandara di Sultra yang dibangun secara mandiri oleh daerah yakni Matahoran dan Sangia Nibandera. Kebetulan saya bantu mengurus perizinannya. Jadi memang kalau kita tidak berani, maka daerah kita ini tidak akan maju,” ujarnya.

Dalam membangun infrastruktur perhubungan, Hado telah memprogram sejumlah program prioritasnya, diantaranya akan mengembangkan sistem transportasi terintegrasi darat, laut dan udara.

Dalam upaya ini katanya segera menyelesaikan pembangunan terminal tipe B di setiap kabupaten/kota di Sultra dan terus membangun pelabuhan untuk menyambungkan konseksitas antar daerah.

Pada kesempatan itu, Hado juga menyoroti pemerintah pusat yang tidak mengalokasikan dana dekonsentrasi untuk sektor perhubungan di Sultra.
“Kenapa PU misalnya ada dana dekon untuk daerah, sementara untuk perhubungan tidak ada. Makanya saya malas ikut rapat di Jakarta,” katanya. (lex)

To Top