Polisi Ringkus Oknum Pegawai Dinas PU Sultra dan Pengusaha Travel – Berita Kota Kendari
Headline

Polisi Ringkus Oknum Pegawai Dinas PU Sultra dan Pengusaha Travel

IST
Ilustrasi

Keduanya Jaringan Narkoba Lapas Kendari

BKK, KENDARI – Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) menangkap dua tersangka penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat aditif (napza) jenis sabu-sabu.
Keduanya yakni oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sultra bernama Ariston Ramma alias Ulon (55), dan seorang pengusaha travel di Kota Kendari Hasdar SH (38).

Demikian diungkapkan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Sultra Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sunarto saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/8).

Dua tersangka ini berada pada kelompok jaringan berbeda. Masing-masing dari tersangka, berhubungan dengan narapidana (napi) pengendali narkoba yang sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Kelas IIA Kendari.

Hasdar dan Ulon diringkus di rumah masing-masing yang kebetulan alamatnya sama, yakni di Kelurahan Mandonga, Kecamatan Mandong Kota Kendari.

Hasdar dibekuk di Lorong Merpati Jalan Sam Ratulangi, Senin (14/8) sekira pukul 23.20 Wita. Sedang, Ulon diciduk di Lorong Okumene, Rabu (2/8) sekira pukul 22.50 Wita.

Kabidhumas yang akrab disapa Narto ini mengurai, kedua tersangka ini ditangkap setelah aparat Subdit III pada Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Sultra mendapat informasi masyrakat.
Hasdar diringkus setelah anggota menyamar sebagai pembeli sabu-sabu.

Tidak tanggung-tangung, petugas harus merelakan uang sebesar Rp 12 juta.
Uang tersebut ditransfer ke rekening Bank Central Asia (BCA) atas nama tersangka Hasdar SH, untuk pembelian 10 gram sabu-sabu.

“Setelah uang diterima tersangka (Hasdar), terjadilah kesepakatan. Bahwa untuk pengambilan sabu-sabu yang dipesan anggota ini, nanti menunggu arahan dari tersangka,” uangkapnya.

Selang beberapa menit, tersangka Hasdar menelepon dan meminta pembeli yang merupakan anggota untuk mengambil barang haram tersebut di Jalan Banawula Kelurahan Matabubu Kecamatan Poasia Kota Kendari.

“Tetapi, sebelum mengambil barang (sabu-sabu) sudah ada beberapa anggota yang mengintai di sekitar rumah tersangka. Setelah sabu-sabu diambil dan diamankan, anggota pun langsung menangkap tersangka Hasdar,” terang Narto.

Perwira polisi dengan dua melati di pundak ini membeberkan, tersangka Hasdar merupakan bandar dengan pola transaksi sistem tempel. Di mana, untuk mendapatkan barang haram dari Hasdar, pelanggan harus terlebih dulu mengirim uang ke rekening.

Selain 10 gram sabu-sabu, sebut Narto, barang bukti lain yang turut diamankan saat penggeledahan di rumah tersangka yakni uang tunai hasil penjualan sebesar Rp 4,3 juta, ATM BCA, 12 lembar bukti transfer. Kemudian, dua buku tabungan, masing-masing atas nama Hj Andi Hasna (BRI) serta Hasdar SH (BCA).

Berbeda dengan Hasdar yang melakukan transaksi sabu-sabu dengan sistem tempel, Ulon justru melakukan penjualan barang haram dengan pola transaksi langsung dengan pelanggan.
“Tersangka mengedarkan barang haram dengan cara transaksi bertemu langsung dengan pembeli,” kata Narto.

Hasil pemeriksaan, tersangka mengaku mendapatkan sabu-sabu dari seorang napi di Lapas Kendari. Adapun barang bukti yang diamankan dari tersangka Ulon, yakni dua paket sabu-sabu seberat 0,64 gram.

Lalu, tambah Narto, satu timbangan digital hitam kuning, 217 kantong plastik bening pembungkus sabu-sabu, buku tabungan Bank Mandiri atas nama Hendra M, satu lembar bukti transfer atas nama ST Rae, dan satu alat isap sabu-sabu (bong).

Lebih lanjut Narto mengatakan, keduanya tersangka dijerat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Nakotika. Untuk Ulon dikenakan Pasal 114 ayat (1) sub Pasal 112 ayat (1), sementara Hasdar dijerat Pasal 114 ayat (2) sub Pasal 132 ayat (1). Pasal yang menjerat kedua tersangka ini sama-sama mengandung ancaman pidana penjara seumur hidup. (man/c/iis)

To Top