Tak Didukung Saat Pilkades, Guru Mengaji Dipecat – Berita Kota Kendari
Feature

Tak Didukung Saat Pilkades, Guru Mengaji Dipecat

MANSIRAL USMAN/BERITA KOTA KENDARI
DAMPAK PILKADES. Guru mengaji Sahria beserta dua putranya, saat ditemui Berita Kota Kendari di kediamannya, Desa Rante Limbong, Kolaka Utara, belum lama ini.

BKK, LASUSUA- Kepala Desa Rante Limbong, Asmal menjadi pembicaraan warga lantaran memecat Sahria (48), salah satu guru mengaji desa. Pasalnya, pemecatan itu disebut-sebut karena Sahria tidak mendukung Asmal saat Pemilihan Kepala Desa beberapa waktu lalu.

Sejumlah warga menyayangkan tindakan Kadesnya lantaran Sahria sudah melayani belajar baca Alquran sejak 2004 silam atau sudah 13 tahun lamanya. Salah seorang warga desa, Uci (35), nama samaran, membenarkan hal itu. Menurutnya, pemecatan itu merupakan imbas dari Pilkades.

“Tindakan Pak Kades tidak manusiawi dan terkesan arogan. Masa hanya tidak mendukung pada Pilkades, harus dipecat. Kami sebagai warga jelas kecewa ada prilaku seperti ini,” beber Uci dengan nada kesal.

Sahria yang ditemui Berita Kota Kendari, mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia merasa kecewa karena pemecatannya tidak beralasan. Selama ini, dia merasa hanya mengajarkan baca tulis Alquran kepada anak-anak di desanya.

“Murid saya ada 10 orang. Namun sejak warga mengetahui saya dipecat, mereka tak mau lagi anak-anaknya belajar mengaji di rumah saya, dan memilih belajar di rumah masing-masing,” ujarnya.

Sahria juga mengaku sudah didatangi sejumlah warga yang mempertanyakan alasan mengapa dia berhenti mengajar mengaji. Tapi dia sendiri tidak tahu alasannya. Bahkan yang didengarnya, bukan hanya dirinya saja yang dipecat, tetapi ada beberapa guru mengaji lainnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Rante Limbong, Asmal mengakui telah memberhentikan Sahria sebagai guru mengaji desa. Namun dia menyangkal jika itu dilakukan karena Pilkades.

Yang benar, kata dia, pihaknya telah mengangkat guru mengaji yang baru yang siap menampung murid yang lebih banyak. “Benar saya berhentikan secara hormat melalui surat dengan alasan anak didiknya sudah berkurang,” kata Asmal.

Selain itu, Asmal mengakui memberhentikan dua guru mengaji di desa tersebut karena efisiensi anggaran. Apalagi menurutnya, Sahria dan yang lainnya sudah jarang berada di rumahnya.

“Jadi lebih baik diganti dan untuk menghemat anggaran,” katanya. (cr11/b/aha)

To Top