Headline

Morosi, Kemiskinan dan Rp 7 Triliun

IST
Ilustrasi kemiskinan di Konawe.

Sejak dibangunnya megaindustri di Morosi, terjadi migrasi besar-besaran masuk ke Kabupaten Konawe. Sayangnya, arus migrasi ini justru menciptakan masalah baru bagi pemerintah; kemiskinan.

Laporan: Irman
Konawe

Migrasi ini mulai nampak sejak tiga tahun terakhir ini. Para migran berbondong-bondong masuk ke Konawe dengan impian bisa mendapatkan lapangan pekerjaan di sektor tambang. Mereka pun menempati sejumlah titik di daerah perkotaan kabupaten.

Sayangnya, mendapatkan pekerjaan di perusahaan tambang itu tidak semudah yang diimpikan. Alih-alih berhijrah untuk mengubah nasib, mereka kini justru mengalami kemiskinan karena tidak punya pekerjaan.

Data angka kemiskinan yang dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) Konawe menyebutkan, jumlah penduduk miskin di Konawe berjumlah 16,09 persen dari 238.067 jiwa penduduk Konawe. Kantong kemiskinan lebih besar di perkotaan kabupaten. Ada dugaan, angka kemiskinan disumbang dari para migran tadi.

Bupati Kery Saiful Konggoasa menyebut masalah ini sebagai PR besar. Baginya, kemiskinan di daerah tidak perlu dilihat dari orangnya. Lokal maupun pendatang, sama saja sudah menjadi penduduk Konawe.

Tentu saja, Pemkab sudah menyiapkan langkah untuk menanggulangi kemiskinan. Salah satunya memang dengan membuka investasi agar tercipta lebih banyak pekerjaan. Dalam hal ini, megaindustri Morosi menjadi andalan.
Meski masih dalam tahap pembangunan infrastruktur, lapangan pekerjaan sudah terbuka.

“Paling tidak, sebagian sudah mengakomodir warga setempat. Kemudian memperkecil angka pengangguran di Konawe,” jelasnya.

Jika mengandalkan APBD untuk mengentaskan kemiskinan, kata Kerry, itu sangatlah sulit mengingat nominalnya hanya sekitar Rp 1,4 triliun. Tetapi melalui investasi, perputaran ekonomi bisa lebih cepat. Berdasarkan data Kemenkeu RI, perputaran likuiditas di Konawe sudah mencapai Rp 7 triliun dalam satu tahun terakhir ini. Kerry menganggap Morosi sudah menjadi bagian penting dalam perputaran uang tersebut.

“APBD hanya sebesar Rp 1,4 triliun. Tetapi kenyataanya uang yang beredar di Konawe itu sebesar Rp. 7 triliun setiap tahun. Dan jika Mega Industri sudah berjalan normal maka pertumbuhan ekonomi regional akan semakin membaik,” paparnya.

Selain sektor pertambangan, lanjut ia, sektor pertanian, peternakan dan perikanan juga akan menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi. Pemkab Konawe dalam hal ini akan menyiapkan infrastruktur untuk menunjang kelancaran aktivitas sektor hasil bumi itu.

Saat ini, lanjut dia, proyek nasional Bendungan Pelosika di Kecamatan Latoma dengan nilai investasi Rp 2 triliun sementara dibangun. Jika bendungan ini beroperasi, area persawahan baru seluas 20.000 hektar akan terbuka. Jalan-jalan yang menghubungkan daerah agrobisnis juga terus dibuat sebagai bentuk dukungan.

“Ini adalah upaya-upaya kita untuk memperkuat usaha ekonomi kerakyatan. Dan memperkuat ekonomi di daerah pedesaan. Jadi kalau dua investasi besar ini sudah berjalan. Maka pertumbuhan ekonomi baik di kota maupun di desa akan saling menopang. Sehingga tidak ada lagi warga miskin di Konawe,” paparnya. (*/c/aha)

To Top