Nelayan Rumput Laut Merugi akibat Aktivitas Tambang – Berita Kota Kendari
Bisnis & Ekonomi

Nelayan Rumput Laut Merugi akibat Aktivitas Tambang

MARWAN TOASA/BERITA KOTA KENDARI
KEPALA Dinas Kelautan dan Perikanan Konsel, Hidayatullah memberikan penjelasan di hadapan para petani rumput laut Desa Akuni, yang melakukan unjuk rasa, Senin (24/7).

ANDOOLO, BKK- Aktivitas perusahaan-perusahaan tambang di Konawe Selatan diduga menjadi penyebab anjloknya pendapatan para petani rumput laut. Sebab sebelum kehadiran perusahaan tambang, para petani masih bisa mengandalkan rumput laut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu komunitas petani rumput laut yang kini menderita adalah para petani di Desa Akuni, Kecamatan Tinanggea. Mereka menuding aktivitas pengangkutan ore nikel dari PT BPB berkaitan langsung dengan memburuknya produksi rumput laut mereka. Padahal Desa Akuni sempat mencapai masa kegemilangannya sebagai salah satu penghasil rumput laut terbesar di Sultra.

Karena itu, sejumlah petani rumput yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pesisir dan Petani Rumput Laut (AMPPRL) mendatangi Dinas Perikanan dan Kelautan Konsel. Mereka meminta pemerintah segera meninjau aktivitas PT Baula Petra Buana, sekaligus melakukan kajian.

Erwin Gayus, salah seorang koordinator aksi mengatakan, masyarakat setempat merasa dirugikan dan karenanya mereka meminta perhatian pemerintah. Dia mengungkapkan, para petani rumput laut sebelumnya pernah menuntut PT BPB agar memberikan ganti rugi bagi petani yang terdampak dari aktivitas angkutan tambang. Namun sampai saat ini, pihak perusahaan belum pernah merealisasikannya.

“Masih banyak permasalahan yang perlu kita sikapi secara bersama-sama. Termasuk belum tercapainya mediasi yang sebelumnya telah direncanakan akan difasilitasi oleh pihak kepolisian. Masalah ini sudah terkatung-katung tiga bulan,” kata Erwin yang dipercaya sebagai jenderal lapangan, di depan Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Konsel, Senin (24/7).

Dia mengatakan, keberadaan investasi di sebuah daerah seharusnya memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat, terutama di Desa Akuni. Namun kenyataannya justru berbanding terbalik. Sektor kelautan yang menjadi tumpuan warga selama ini malah tersingkirkan.

“Sehingga kami meminta kepada dinas kelautan untuk memberikan solusi. Ini sangat serius. Menyangkut urusan perut banyak orang, termasuk masa depan anak-anak mereka. Jangan seperti badan lingkungan hidup yang tidak mau menerima aspirasi masyarakat,” tambahnya.

Erwin juga mengungkapkan, pihaknya masih akan melanjutkan aksi di PT BPB. Bahkan massa sudah nekat untuk menutup aktivitas tambang tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Konsel, Hidayatullah berjanji akan memenuhi tuntutan para petani, dengan meninjau Desa Akuni. Dia juga berkomitmen untuk melakukan kajian untuk mencari tahu hubungan antara aktivitas pengangkutan produk tambang dengan anjloknya produksi rumput laut di desa tersebut.

“Untuk peninjauan lapangan, itu bisa kita lakukan hari ini juga. Namun untuk kajian ilmiah, saya meminta jangka waktu satu bulan untuk memberikan apa hasilnya. Karena bukan kami yang akan melakukan kajian akan tetapi dari balai karantina UPT kementerian kelautan,” jelasnya. (cr13/aha)

To Top