Kasuistika

Razia THM, Petugas Gabungan Amankan 18 Orang Positif Narkoba

Pemeriksaan urine yang dilakukan petugas saat melakukan razia narkoba pada beberapa THM di Kendari. (FOTO:KASMAN/BKK)

KENDARI, BKK – Tim gabungan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) dan Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra), mengamankan 18 orang dalam razia narkoba pada sejumlah tempat hiburan malam (THM) di Kota Kendari, Kamis (20/7) malam.

Mereka diamankan petugas setelah dinyatakan positif sebagai pengguna narkoba melalui pemeriksaan urine.

Sebanyak 12 orang di antaranya merupakan wanita penghibur THM, sementara enam lainnya merupakan pengunjung.

18 orang ini kemudian diseret ke BNNP Sultra untuk menjalani asesmen, agar mengetahui tingkat kecanduan para pengguna tersebut.

Dalam razia ini juga turut melibatkan beberapa personel Detasemen Polisi Militer (Denpom) VII/5 Kendari.

Beberapa perempuan dan pengunjung tersebut di amankan dari beberapa THM, di antaranya Triple 999, D’Blitz, Fun-Q, dan D’Liquid.

Satu perempuan penghibur D’Blitz yang mengaku bernama Deby, menangis saat hendak dibawa ke BNNP Sultra.

Sempat bersikeras untuk tidak mau ikut petugas, namun dengan bujukan pihak THM, ia pun menurut dan mau ikut.

Sementara, wanita penghibur yang kedapatan di D’Liquid bernama Yulia mengaku, dirinya baru saja menginjakan kaki di Kendari selama tiga hari.

Perempuan asal Bandung Jawa Barat ini, datang untuk mencari nafkah menghidupi anaknya.

“Saya di sini (Kendari) baru tiga hari. Saya datang cari uang untuk anak saya,” ujarnya dengan nada santai.

Yulia mengaku, ia memakai barang haram karena diberikan salah seorang temannya. Sayang Yulia enggan menyebut nama sahabatnya tersebut.

“Kalau dikasih (narkoba), ya saya pakai. Tapi kadang-kadang saja, kalau saya mau, kalau saya tidak mau, ya biar dikasih saya tolak,” akunya.

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Sultra Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Bagus Hari mengatakan, razia tersebut dilakukan dalam rangka Hari Antinarkoba Internasional.

“Seluruh BNNP diinstruksikan untuk melakukan razia narkoba. Bagi yang postif, kita bawa untuk rehabilitasi, dan kalau yang didapat dengan barang bukti akan diproses hukum,” terangnya.

Perwira polisi dengan dua melati di pundak ini menjelaskan, rehabilitasi akan ditentukan setelah ada hasil asesmen. Di situ akan diputuskan, apakah dilakukan rawat inap atau rawat jalan.

“Kalau tingkat kecanduannya dinilai sudah mengkhawatirkan oleh tim asesmen, pasti dilakukan rawat inap,” tuntas Haris. (man/iis)

To Top