Kasuistika

Polda Segera Kirim Berkas Tersangka Pengadaan Fiktif Bibit Konut

KENDARI, BKK – Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) tak kunjung melimpahkan berkas tahap satu, tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan fiktif bibit di Dinas Kehutanan (Dishut) Kabupaten Konawe Utara (Konut) 2015.

Penyidik berjanji segera mengirim berkas lima orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Polisi sedang meminta keterangan beberapa saksi lagi untuk merampungkan berkas.

“Kalau berkasnya sudah rampung akan langsung dilakukan tahap satu ke kejaksaan,” ujar Kepala Subbidang Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) Bidhumas Polda Sultra Komisaris Polisi (Kompol) Dolfi Kumaseh, Jumat (21/7).

Dolfi bilang, berkas lima terrsangka akan dikirim secara bersamaan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sultra. Karena, beber dia, baru-baru ini penyidik menetapkan tiga tersangka baru.

Penetapan tersangka tiga tersangka baru atas laporan polisi yang dibuat pada 2017 ini.

Ketiganya yaitu Lili Jumarni dan Saenab ditetapkan sebagai tersangka melalui LP/III/2017/SPKT Sultra tanggal 29 Maret 2017.

Sementara, Ahmad melalui LP/140/III/2017/ SPKT Sultra tanggal 29 Maret 2017.

Dalam kasus ini, masih kata Dolfi, Lili dan Jumarni bertindak sebagai pemeriksa barang, sementara Ahmad sebagai kontraktor.

Diberitakan, sebelumnya penyidik terlebih dulu menetapkan dua tersangka yakni Kadishut Konut Amiruddin Supu dan pejabat pembuat komitmen (PPK) bernama Muhamadu.

Kasus dugaan pengadaan fiktif bibit jati, eboni, dan bayam ini total anggaran lebih dari Rp 1,1 miliar.

Hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Sultra menemukan kerugian negara sebesar Rp 700 juta.

Khusus pengadaan bibit dan penanaman jati, terjadi perbedaan besaran anggaran dalam kontrak dan daftar pagu anggaran (DPA). Yang mana, dalam kontrak tertera anggaran sebesar Rp 879 juta, sementara dalam DPA berjumlah Rp 1,176 miliar.

Sehingga ditengarai, selisi anggaran dalam kontrak dan DPA diselewengkan. Lalu ada ketidakjelasan mekanisme pencairan dana, yaitu uang telah dicairkan 100 persen meski sebenarnya pekerjaannya belum selesai.

Khsusu untuk pengadaan Eboni dan Bayam jelas sudah diduga kuat fiktif. Pasalnya, harusnya yang diadakan eboni dan bayam masing-masing sebanyak 2.750 bibit.

Namun, kenyataannya hanya diadakan bibit eboni sebanyak 2.750. Bibit bayam tidak lagi diadakan. Sementara bibit jati yang seharusnya diserahkan dan dinikmati masyarakat, malah ditanan pada tiga lahan milik pejabat Konut. (man/iis)

To Top