Galakkan Anti Paham Radikal, BNPT dan FKPT Libatkan Komunitas Seni Budaya – Berita Kota Kendari
Beranda

Galakkan Anti Paham Radikal, BNPT dan FKPT Libatkan Komunitas Seni Budaya

Pemberdayaan Masyarakat BNPT RI Dr Hj Andi Intang Dulung MHI saat membuka dialog pelibatan komunitas seni budaya dalam pencegahan terorisme (Foto Sumardin/BKK)

KENDARI, BKK- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (disingkat BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) menggelar dialog pencegahan paham radikal di Kendari, Kamis (20/7), dengan melibatkan komunitas seni budaya .

Kegiatan yang bertemakan ‘Sastra Cinta Damai, Cegah Paham Radikalter’ ini selain diikuti sejumlah komunitas seni dan budaya yang ada di Sulawesi Tenggara (Sultra), juga diikuti sejumlah guru dan pelajar SMA serta mahasiswa dan sejumlah paguyuban.

Ketua panitia kegiatan, Dra Hj Yuni Susilowati mengatakan, gerakan radikalisme banyak dilakukan dengan cara perluasan jaringan ke berbagai kabupaten/kota hingga ke desa-desa. Hal ini menurutnya, akan mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan perpecahan antar umat beagama.

“Kita berharap dengan digelarnya dialog ini dapat menemukan berbagai upaya solutif dalam memutuskan mata rantai radikalisme dan terorisme di Sultra,” ujarnya.

Sementara itu, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT RI Dr Hj Andi Intang Dulung MHI menuturkan, dengan adanya pelibatan unsur sastrawan dan pemuda dapat mengatasai faham radikalisme tersebut, diharapkan dapat mewakili berbagai komunitas. Mereka diharapkan dapat mempengaruhi pemuda maupun kelompok yang condong menyentuh perasaan ke arah yang lebih baik.

“Kita berharap agar masyarakat Sultra menjadi masyarakat yang agamis tidak terkontaminasi dengan paham-paham radikalisme dan terorisme sehingga menciptakan suasana yang aman dan aman,” tutur Andi Intang.

Selain itu, Ketua FKPT Sultra Drs Ryha Madi menuturkan, paham radikalisme yang berkembang di Sultra tidak terlalu signifikan perkembangannya. Akan tetapi, perlu untuk tetap terus diwaspadai, mengingat masih banyak masyarakat yang masih mudah terpengaruh dengan faham yang membahayakan itu.

Menurutnya, apabila masyarakat yang hampa akan budaya dikhawatirkan akan dimasuki budaya yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Sehingga, akan melahirkan pemikiran-pemikiran radikalisme yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.

“Dengan adanya kearifan lokal dan budaya yang baik yang dimiliki bangsa Indonesia, semoga akan menumbuhkan masyarakat yang senantiasa melakukan hal-hal yang berguna buat bangsa dan dirinya sendiri,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu sastrawan Aceh, Bung Fikar W Eda yang hadir sebagai pemateri di kegiatan dialog tersebut menjelaskan, melalui sastra kita dapat melihat kehidupan masyarakat yang lainnya.

Dengan demikian, akan muncul sikap saling menghargai di dalam berkehidupan bermasyarakat sehingga tercipta harmonisasi dan sikap toleransi.

“Di lingkungan sastra sendiri kita membuka ruang kepada semua orang sehingga akan memunculkan sikap harmoni, toleransi dan siap menerima satu sama lain karna kita mengguanakan bahasa sastra yang dapat memperkaya wawasan dan menciptakan kehidupan yang baik yang diterima orang banyak,” pungkasnya. (p12/nur)

To Top