Beranda

Penerimaan Siswa Baru di SMAN 4 Kendari Menuai Protes

KENDARI, BKK – Pengelolaan sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) setelah beralih dari kabupaten dan kota ke provinsi, ternyata belum menjamin bisa lebih baik manajemennya.

Salah satu contohnya penerimaan sisswa baru di SMAN 4 Kendari, yang mana dalam pendaftaran berbasis online ini muncul masalah yang dianggap merugikan calon siswa maupun orangtua atau wali.

Seperti halnya yang dialami Angelina Putri (14). Tamatan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Unaaha Kabupaten Konawe tidak bisa menahan rasa sedihnya ketika semula dinyakan lulus secara online, namun kemudian tidak bisa diterima saat mendaftar ulang di SMAN 4 Kendari.

Alasan penolakan dari pihak sekolah karena nama remaja yang akrab disapa Puput ini sudah tidak lagi ditemukan di website penerimaan siswa baru milik SMAN 4 Kendari.

“Anak saya sudah dinyatakan lulus di online penerimaan siswa SMAN 4 Kendari, namun pada saat mendaftar ulang ditolak pihak sekolah,” ujar orangtua Puput, Sahrun Mubarak, saat ditemui di SMAN 4 Kendari, Kamis (6/7).

Menyusul hal itu, kata dia, dirinya harus rela datang ke sekolah untuk mempertanyakan masalah yang menimpah anaknya tersebut.

Ia turut membawa bukti tangkapan layar atau screenshot pengumunan online yang menyatakan anaknya lulus.

“Yang harus bertanggung jawab, ya pihak sekolah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra. Saya datang di sini (SMAN 4 Kendari) hanya mencari kejelasan atas kasus ini. Makanya hari ini saya bertemu kepala SMAN 4 Kendari,” semprotnya.

Sahrun membeberkan, bukan hanya dirinya yang datang melakukan protes mengenai hal serupa. Bahkan, ada juga malah lain yakni siswa yang nilainya tinggi dinyatakan tidak lulus, padahal ada nilai yang lebih rendah masih ditemukan lulus.

“Hari ini hanya saya yang datang, tapi kemarin banyak orangtua siswa yang datang untuk menanyakan kejelasan,” katanya.

Di tempat yang sama, Kepala SMAN Kendari Ruslan SPd MPd mengakui, dalam penerimaan kali ini memang ada yang masih digabung antara kategori pelajar yang berasal dari luar kota dan dalam Kota Kendari.

“Sehingga, kami tetap mengoreksi dan tentu akan berkomunikasi dengan pihak Dikbud Sultra. Sesuai ketentuan memang untuk yang di dalam kota harusnya digabung sama-sama SMP dari dalam kota begitu pula dari luar kota harusnya sama-sama digabung dari luar kota,” terangnya.

Menanggapi adanya keluhan keluhan nilai yang lebih renda namun kemudian dinyatakan lulus, sementara nilai yang agak tinggi dari yang lulus tersebut, Ruslan menampik adanya hal itu.

“Saya kira tidak ada seperti itu. Jalur koordinasi kami ke Dikbud Sultra, karena kami ini bernaung di bawah Dikbud Sultra, jadi kalau ingin kejelasan lebi lanjut lebih bagus ke sana,” pungkasnya. (man/iis)

To Top