Kasus Penggelapan SPP Mahasiswa Diduga Libatkan Oknum Pejabat Avicenna – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Kasus Penggelapan SPP Mahasiswa Diduga Libatkan Oknum Pejabat Avicenna

Kampus STIK Avicenna Kendari.

KENDARI, BKK – Kepolisian Resor (Polres) Kendari menduga ada keterlibatan oknum petinggi kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Avicenna Kendari, dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP).

Kasus ini pada awalnya dilaporkan hanya melibatkan satu orang mahasiswa senior berinisial SF.

Namun seiring berjelannya penyelidikan, kepolisian menyebut ada keterlibatan anak dari pejabat STIK Avicenna yang berperan sebagai pengumpul uang.

“Kami duga melibatkan oknum pejabat kampus, tapi kita masih dalami lagi. Karena kasus sudah berlarut-berlarut,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Kendari Ajun Komisaris Polisi (AKP) Malik Fahrin SH SIK, Kamis (6/7).

Bahkan, beber dia, sudah alumni yang SPP-nya juga diduga digelapkan dengan cara dipalsukan slip pembayaran. Namun ironisnya, masih bisa diperbolehkan mengikuti ujian dan dinyatakan lulus.

Untuk itu, kata Malik, pihaknya telah mengagendakan permintaan keterangan kepada pihak Bank Tabungan Negara (BTN) Kendari. Ini untuk mengetahui apakah slip pembayaran benar milik bank atau dipalsukan.

Malik menambahkan, setelah pihak BTN dimintai keterangan dalam kasus yang masih dalam tahap penyelidikan ini, pihaknya akan menjadwalkan pemeriksaan pihak kamus STIK Avicenna.

“Selanjutnya, slip pembayaran kita akan periksa di Labfor (Laboratorium Forensik) Makassar untuk mengetahui keasliannya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Malik mengatakan, dalam kasus ini pihaknya terlah memeriksa sedikitnya lima saksi yang seluruhnya mahasiswa. Baik, saksi pelapor maupun saksi terlapor.

Diberitakan, korban berjumlah 19 orang namun baru SM yang mengadu ke polisi untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut. Aksi kejahatan SF ini telah berjalan mulai dari 2011 hingga 2017.

SF sebagai senior membujuk para juniornya untuk menyetor SPP kepadanya. Dengan iming-iming, pembayaran SPP bisa lebih murah. Uang yang berhasil diraup sudah mencapai sekitnya Rp 150 juta.

Itu pun baru mahasiswa yang berani mengadu. Mahasiswa lain tidak berani karena takut ancaman di drop out (DO) dari kampus.

Karena SF mengaku, memiliki keluarga di Bank Tabungan Negara (BTN). Namun kenyataannya uang tersebut tidak disetor ke pihak bank.

Dalam kasus ini penyidik menerapkan Pasal 378 dan Pasal 372 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang tindak pidana penipuan dan penggelapan, dengan ancaman empat tahun penjara. (man/iis)

To Top