NA Memandang Asrun Tak Selevel – Berita Kota Kendari
Headline

NA Memandang Asrun Tak Selevel

Dr Hamzah Palalloi dan Prof Eka Suaib

KENDARI, BKK – Pengamat komunikasi politik alumnus Universitas Gunadarma Jakarta, Dr Hamzah Palalloi M IKom menyatakan, menjelang pertarungan pemilihan gubernur (pilgub), Gubernur Nur Alam memainkan politik moderat agar dia tetap dipandang sebagai sosok penyatu identitas dari keragaman etnik lokal.

Peran politik moderat itu, kata Hamzah tersirat dari pernyataanya yang pernah dia sampaikan bahwa idealnya gubernur kedepan dari kepulauan.

“Ini hanya bentuk politik moderat seorang Nur Alam agar ia tetap dipandang sebagai sosok penyatu identitas dari keragaman etnik lokal. Sekaligus peneguhan bahwa ia sosok nasionalis asal Sultra, yang kemudian menjadi daya tawar Nur Alam dalam percaturan pentas nasional,” urai Hamzah dalam percakapannya dengan jurnalis BKK, Selasa (4/7).

Namun dibalik pernyataannya itu, tegas Hamzah, Nur Alam secara lokal, tetap mengikat figur-figur etnik Tolaki untuk tetap kompetitif di pentas politik Sultra.

Hamzah menguraikan, Nur Alam juga menunjukkan dirinya bahwa ia aktor yang memiliki tiga kapasitas utama sebagai sosok politisi yang hebat. Secara teoritik dalam psikologi komunikasi disebut dengan Etos yakni daya kerja atau semangat), phatos yaitu kejiwaan yang baik, serta logos berarti pengetahuan mumpuni.

“Cara seperti itu akan melahirkan opini massa, bahwa ia sosok yang sangat berkarakter yang pernah dimiliki Sultra, sehingga pantas menjadi kompetitor politik pentas nasional,” ujarnya.

Terkait pertemuan NA dengan Asrun, menurut mantan wartawan ini memiliki pesan pesan politik bahwa Nur Alam sosok mengayomi, tidak memiliki dendam politik, dan mudah cair dalam berkomunikasi.

Menurut Hamzah, pertemuan keduanya tidak bisa disebut sebagai rekonsialiasi politik, tetapi silaturrahim biasa, sebab dari kacamata NA meyakini jika Asrun tidak berada dalam level politiknya.

“Sebaliknya bagi Asrun, bisa dianggap sebagai ‘daya tawar’, dalam posisinya sebagai kandidat gubernur.

Sangat pasti jika berseberangan, maka ada kerugian politik akan mendera Asrun,” urainya.

Hamzah merinci kerugian bisa berbntuk ‘tidak bulatnya’ suara etnik daratan, bisa juga pada tataran psikologi massa, bahwa Asrun tidak memiliki kepandaian mengikat kekuatan para tokoh Tolaki.

“Intinya bahwa, dalam kacamata politik apa saja, Asrun akan dilemahkan jika ia tetap kukuh bila berseberangan dengan Nur Alam,” tegasnya.

Dikatakan, pertemuan akrab antara NA dan AS sudah pasti akan mengubah psikologi elite, dan akan menguntungkan keduanya. NA berhubungan dengan ketokohannya, sementara Asrun berhubungan dengan pressure politiknya kepada kandidat lainnya.

Jika situasi itu tetap terpelihara, katanya, dia meyakini bahwa gubernur kedepan tetap akan dipegang elite dari Tolaki/Mekongga, dan pasangannya tentu dari kepulauan, bisa Muna atau Buton.

“Intinya jalur pesan komunikasi politik keduanya. NA menggunakan jalur yang disebut central route, atau pesan yang terbangun tersebar hingga ke jantung kekuasaan. Sementara Asrun menggunakan jalur yang disebut periferal route (jalur pinggir) , dimana akan menyebar keseluruh publik politik di Sulawesi Tenggara,” ujarnya.

Pakar politik dari Universitas Halu Oleo (UHO), Prof Dr Eka Suaib MSi menyatakan, pertemuan dua tokoh itu momentum biasa saja dalam suasana lebaran.

“Orang bersilaturahmi adalah hal lumrah. Hanya saja, bacaannya jadi lain karena kedua figur adalah tokoh sentral dalam episentrum politik lokal yang komunikasi politiknya ada gangguan,” katanya.

Dikatakan, keduanya pasti sudah mengetahui trik politik dalam mendekati pemilih, kelemahan dan kekuatan pribadi masing masing.Pemilih juga sudah mengetahui secara umum gambaran keduanya.Karena itu, silaturahmi yang terjadi tidak banyak memberi insentif elektoral masing masing.

“Yang ditunggu memang pada masa masa mendatang, khususnya menjelang hari H, siapa kedua figur ini yang mampu mengkapitalisasi pemilih sehingga mampu unggul,” ujar mantan Ketua Umum HMI Cabang Kendari ini.

Alasanya, menurut Eka, antara NA dan Asrun memiliki irisan yang sama pada tiga hal. Pertama, berasal dari identitas yang sama yakni Tolaki. Kedua, sama-sama tokoh PAN, dan ketiga, sama-sama penguasa, meski level berbeda yakni gubernur dan walikota.

“Karena itu, pertempuran akan terjadi yakni pada figur siapa yang sanggup unyuk menggiring pemilih untuk mampu keluar dari isu suku, teritorial, dan status. Yang mampu untuk melalukan hal tersebut yang bisa punya peluang paling besar memenangkan pilgub,” pungkas Eka. (lex)

To Top