Bisnis & Ekonomi

Kenaikan Harga Sayur Jadi Pendorong Utama Inflasi

RIA RAMAYANTI/BERITA KOTA KENDARI
KEPALA Badan Pusat Statistik Sulawesi Tenggara, Atqo Mardianto memberikan merilis data BPS Sultra mengenai perkembangan ekonomi selama Mei – Juni 2017, di Kantor BPS Sultra, Senin (3/7).

KENDARI, BKK- Kenaikan harga sayur-sayuran, terutama bayam dan kangkung selama periode Ramadhan lalu dituding sebagai penyebab tingginya inflasi pada Juni lalu hingga menembus angka 3,58 persen. Angka ini menjadikan Kendari sebagai kota yang mengalami kenaikan harga yang paling tinggi diantara kota-kota di Pulau Sulawesi pada Mei-Juni ini.

Demikian data dari Badan Pusat Statistik Sulawesi Tenggara yang dipaparkan Kepala BPS Sultra, Atqo Mardianto dalam jumpa pers di Kantor BPS Sultra, Senin (3/7). Atqo menambahkan, hampir semua jenis sayuran mengalami kenaikan harga, terutama bayam yang naik hingga 145 persen.

Dari pencatatan BPS, perubahan harga sayur bayam terjadi sejak Mei lalu. Begitu juga dengan kangkung, sawi hijau, terong panjang dan kacang panjang.

Catatan Berita Kota Kendari memang menunjukkan terjadinya lonjakan harga pada jenis sayur-sayuran sejak Mei lalu. Sayur bayam yang biasanya dijual Rp 5.000 per tiga ikat besar, langsung naik menjadi Rp 5.000 per ikat.

Menurut Atqo, melonjaknya harga sayuran pada periode Ramadhan ini tidak lazim. “Jadi sayur ini kalau kita sedikit review, biasanya tidak berpengaruh di puasa atau lebaran. Yang biasanya mengalami kenaikan itu telur, bawang dan daging,” kata Atqo.

BPS Sultra sendiri meyakini melonjaknya harga sayur-sayuran di Kendari lebih diakibatkan faktor cuaca ekstrem. Untuk mengingatkan, sejak Mei hingga Juni, Sulawesi Tenggara dirundung hujan lebat yang menyebabkan komoditas sayur-sayuran mengalami gagal panen. Situasi inilah yang membuat suplai sayur-sayuran dari daerah, terutama Konawe Selatan, menjadi terganggu.

Cuaca buruk juga mengakibatkan tangkapan ikan turun drastis, sehingga turut memicu kenaikan harga ikan di pasaran. Ikan laut yang paling sering dikonsumsi seperti cakalang, kembung dan banyar, juga naik.

“Jadi secara umum, bahan makanan memang banyak yang naik. Terutama bayam, kangkung, kacang panjang, sawi hijau, terong panjang, cakalang, jantung pisang serta kembung. Kelompok makanan ini yang menyumbangkan inflasi sampai 12,93 persen,” katanya.

Selain makanan, pemicu inflasi lainnya adalah kenaikan tarif transportasi udara, komunikasi, dan jasa keuangan (1,08 persen). Lalu kesehatan (0,92 persen), perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,62 persen). BPS juga mencatat kenaikan pada komoditi sandang (0,35 persen) makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,08 persen), serta pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,02 persen).

Di samping itu, ada juga produk yang mengalami penurunan harga. Diantaranya bawang merah, gaun/terusan, minuman ringan, bawang putih, sagu, lemari es, kemeja panjang sersin, sabun cream detergen, pembersih lantai dan makanan ringan/snack

“Untuk kemeja mengalami penurunan kerena sudah terdapat diskon.

Dia melanjutkan, dari sebelas kota di Pulau Sulawesi, semua kota tercatat mengalami inflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Kota kendari 3,58 persen dengan IHK 128,17. Sedangkan inflasi terendah tercatat di Palu, Sulawesi Tengah, sebesar 0,76 persen dengan IHK 132,10. Tingkat inflasi Kota Kendari tahun kalender Juni 2017 tercatat 5,33 persen dari tingkat inflasi tahun ke tahun (Juni 2017 terhadap Juni 2016) 6,17 persen. Secara nasional, inflasi sepanjang Juni tercatat inflasi 0,69 persen dengan laju inflasi Juni tercatat 2,38 persen dan laju inflasi year to year (Juni 2017 terhadap Juni 2016) tercatat 4,37 persen. (p14/aha)

To Top