Keluarga Korban Penembakan di Tampo Minta Polisi Transparan – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Keluarga Korban Penembakan di Tampo Minta Polisi Transparan

KENDARI, BKK – Kepolisian diminta transparan dalam penyidikan kasus penembakan yang dilakukan oknum anggota berinisial Brigadir Aw, yang menewaskan seorang warga Tampo Kecamatan Napa Balano Kabupaten Muna La Ode Fihu (43).

Permintaan itu datang dari salah seorang keluarga sekaligus akan bertindak sebagai penasihat hukum korban, Dr LM Bariun SH MH. Kasus ini, sambung dia, harus berjalan secara terbuka tanpa ada yang harus ditutup-tutupi.

“Harapan kita proses itu berjalan, karena kita punya keluarga itu meninggal. Sehingga pelaku harus mendapatakan hukuman setimpal dengan perbuatannya,” pinta Bariun kepada Berita Kota Kendari (BKK) melalui telepon selulernya, Senin (3/7).

Dikatakan, polisi selaku pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat tidak mesti melakukan aksi penembakan, terkecuali korban melakukan perlawanan sehingga oknum tersebut dalam keadaan terdesak. Sementara, kenyataannya tidak seperti demikian.

“Artinya yang namanya menghilangkan nyawa orang itu harus diproses, terlepas dari tindakan dan kesalahan yang dilakukan korban. Kalau memang benar-benar bersalah itu harus dilumpuhkan saja. Senajata api bukan kepentingan untuk membunuh orang, terkecuali anggota dalam keadaan terdesak atau ada perlawanan dari korban,” dstandasnya.

Bariun menilai, perbuatan yang dilakukan oknum anggota Brigadir Aw sudah di luar dari standar operasional prosedur (SOP). Sehingga, dia meminta, pelaku ditindak tegas sebagai efek jerah.

Menurut dia, pihak Keplisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengara (Sultra), mestinya tidak bungkam saat awak media menanyakan perkembangan kasus ini. Bahkan, Kapolda Sultra Brigadir Jenderal Polisi (Brigjenpol) Andap Budhi Revianto SIK harusnya mau mau menanggapi kasus ini.

“Oh ini tidak bisa (kapolda diam) ini harus ditanggapi. Kalau memang korban bersalah, kesalahannya apa. Barang buktinya apa dan saksi yang mengatakan korban akan membeli solar siapa. Kan begitu, berarti kita punya keluarga ini hanya korban,” semprotnya.

“Semua saksi-saksi menyampaikan tidak ada pembelian solar. Kan dialihkan sekarang bahwa dia (korban) menjual solar, sementara drumnya itu tidak ada isinya,” sambung Bariun.

Masih kata Bariun, jika memang diindikasikan atau diduga melakukan transaksi solar, korban bisa dipanggil baik-baik untuk diperiksa, tanpa harus ditembak mati.

“Penyidikan harus transparan, supaya polisi juga tidak kehilangan kepercayaan di masyarakat. Jangan karena dilakukan oknum anggotanya terkesan perkara ini ditutup-tutupi,” imbuhnya.

Sementara, Kapolres Muna Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Agung Ramos Paretongan Sinaga mengaku, pelaku Brigadir Aw sudah ditahan. Kini, masih dalam perambungan berkas tahap satu.

“Masih nunggu dulu pendalamannya. Udah ditahan sejak 1×24 jam setelah kejadian. Berkasnya belum dikirim sedang dalam proses,” ujar Ramos saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya.

Perwira polisi dengan dua melati di pundak ini menambahkan, proses penyidikan masih berjalan di Polres Muna. Dan, belum diambil alih Polda Sultra. (man)

To Top