Headline

Perjuangan Nasib Tujuh Bocah Pemulung Kerjas Keras untuk Kehidupan

Tujuh bocah pemulung sedang beristirahat di pinggir jalan sambil memeriksa plastik bekas hasil keringat sehari.

Di bawah hamparan lampu jalan di sekitaran bundaran pesawat Lepolepo terdapat tujuh bocah sedang duduk sejenak menghilangkan rasa lelah.

Laporan: La Ode Kasman Angkosono, Kendari

Di tengah-tengah mereka terdapat barang bekas yang tersimpan dalam karung setenga terisi. Ada pula yang disimpan pada beberapa kantong plastik.

Mereka yakni Fitri (13) pelajar kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 12 Kendari. Selfi (9), Sari (10), Delvi (10), Risna (10), dan Jelita (9) merupakan murid Sekolah Dasar (SD) 19 Baruga.

Sementara, Pado (10) memutuskan untuk berhenti sekolah karena tidak tahan dengan ejekan teman-temannya yang selalu menyinggung pekerjaan orangtuanya sebagai pemulung.

Jelita, Sari, dan Pado bersaudara, anak pasangan dari Isa dan Firman.

Rambut acak-acakan, wajah dan sebagian badan terpampang bercak-bercak lumpur. Namun senyum tetap mengembang di bibir enam bocah perempuan dan satu lelaki tersebut.

Mereka semua tinggal di Lepolepo Permai Kelurahan Wundudopi Kecamatan Baruga Kota Kendari. Mengumpul plastik bekas menjadi rutinitas setelah pulang atau libur sekolah.

Ibu mereka ada yang bekerja sebagai pemulung, ada juga hanya sebagai ibu rumah tangga. Ayah, sebagai buruh bangunan dan ada pula sebagai pemulung, bahkan dua-duanya menjadi pengumpul barang bekas.

Sesekali mereka saling bercanda riah. Terlambat pulang ke rumah bukanlah hal baru buat mereka. Padahal, malam itu waktu sudah menunjukan pukul 20.30 Wita.

Keberangan orangtua bukan lagi menjadi khawatir buat mereka. Karena orangtua masing-masing pemulung cilik ini, tahu anaknya pergi untuk kembali membawa plastik bekas.

Barang hasil pungutan di antara tumpukan sampah ini dikumpul dan akan dijual jika untuk membantu kehiduapan keluarga.

Terpaan hujan dan terik matahari sudah menjadi santapan penyemangat angkuhnya kehidupan yang mereka alami. Tak ada pilihan lain, nasib seorang anak pemulung.

Tak ada keluhan, tak nampak raut wajah sedih. Apa lagi penyesalan dengan nasib kurang beruntung yang dialaminya.

“Saya memulung untuk membantu orangtua. Hasil kumpulan dalam satu minggu biasanya hanya berharga Rp 150 ribu,” aku Fitri yang merupakan anak pasangan dari Tini dan Rudi.

“Kalau saya memulung untuk membantu Bapaku untuk mengumpul biaya melahirkan Mamaku,” teriak Risna yang tepat berada di belakang Fitri.

Risna merupakan anak dari pasangan Yuli dan Udin. Bapaknya bekerja sebagai kuli bangunan, sementara mamanya sedang libur memulung karena sedang hamil tua.

Penghasilan tidak menetap yang didapat orangtua, membuat batin Risna tergerak mencari jalan. Memulung menjadi upaya yang bisa dilakukan.

“Kalau sudah libur sekolah atau pulang dari sekolah, kita baku panggil-panggil mi untuk pergi cari plastik bekas,” uajar murid kelas V SD ini.

Mereka hanya berharap hidup bahagia meski kehidupan keluarga pas-pasan. Meski hidup dari sampah, tapi mereka tidak mau menjadi sampah di lingkungan tempat tinggalnya.

To Top