Asrun dan Ridwan Bae Tunggu Lawan – Berita Kota Kendari
Beranda

Asrun dan Ridwan Bae Tunggu Lawan

LM Ishak Junaidy

Sedikitnya 12 figur meramaikan baliho Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Tenggara (Sultra) 2018. Kebanyakan sudah punya nama besar, dan beberapa pendatang baru.

Catatan: LM Ishak Junaidy

Sayangnya, hanya 2 atau 3 orang dari mereka yang akan menyandang titel calon gubernur (cagub). Paling banter 4 orang. Selebihnya meringkuk di kursi cawagub atau tidak sama sekali, hilang ditelan hiruk pikuk.

Para pesohor itu adalah Wali Kota Kendari Asrun; anggota DPR RI, Ridwan Bae; Bupati Kolaka Utara (Kolut) Rusda Mahmud; mantan Bupati Buton, Sjafei Kahar; mantan Gubernur Sultra, Ali Mazi; mantan Bupati Wakatobi, Hugua; anggota DPR RI, Asnawati Hasan (Tina Nur Alam); Sekprov Sultra Lukman Abunawas; Ketua Ombudsman RI La Ode Ida; anggota DPR RI, Amirul Tamim. Ditambah dua pendatang baru, Abdul Rahman Farisi dan Bupati Muna Rusman Emba.

Dua di antaranya sudah jadian, yaitu Rusda Mahmud-Sjafei Kahar. Tinggal menunggu ijab kabul di KPU, bila tidak ada aral melintang.

Sudah diulas dalam tulisan sebelumnya tentang 3 parpol mayor punya kans besar menjadi rahim Pilgub Sultra 2018, yaitu PAN (9 kursi), Golkar (7), Demokrat (6). Tentu saja dengan tidak menafikan PDIP (5 kursi) sekecil apa pun peluangnya untuk membuka pintu keempat.

Sebanyak 12 penantang pilgub memperebutkan 3 atau 4 pintu politik ini.

Pintu pertama, PAN. Partai berlambang matahari terbit tidak membuka konvensi pilgub.

Dia diperebutkan oleh tiga “orang dalam”, yaitu Asrun, Tina Nur Alam, dan Lukman Abunawas.

Di sini Asrun bersaing dengan dua “orang dekat” Nur Alam, sang seteru politiknya. Siapa pemenangnya?
Yang jelas salah satunya harus keluar sebagai bakal calon (balon).

Sudah rahasia umum Asrun begitu dekat dengan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN Zulkifli Hasan, membuat Asrun tidak perlu jadi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Sultra untuk bisa maju pilgub, dan dia juga tidak butuh rekomendasi Ketua PAN Sultra.

Ketika KPU diperhadapkan dengan rekomendasi DPW dan DPP sekaligus, maka KPU tutup mata akan mengambil rekomendasi DPP. Itu aturan.

Pintu kedua, Golkar. Partai berlambang beringin sudah menutup pintu hatinya bagi kehadiran sosok selain Ridwan Bae. Diskusi selesai.

Pembicaraan soal Golkar hanya seputar siapa wakil yang pas buat Ridwan Bae.

Sampai di sini, dua penantang pilgub sudah tampak walau belum bisa dikunci. Asrun vs Ridwan Bae.

Tinggal menunggu jebolan Demokrat.

Pintu ketiga, Demokrat. Partai besutan SBY bisa memaksakan kehadiran orang ketiga.

Rusda Mahmud tercatat sebagai pembina Partai Demokrat Sultra.

Hanya saja, rekomendasi partai belum tentu digenggam.

Karena parpol tidak mengenal kader. Parpol hanya mengenal kepentingan.

Terlebih, partai berlambang mercy membuka konvensi pilgub, yang dengan itu ia terbuka bagi siapa saja. Menjadi tumpuan harapan figur lain yang punya kecakapan tapi tidak punya kendaraan.

Dengan adanya konvensi, balon dari Demokrat masih gelap, sama gelapnya dengan nasib Rusda Mahmud.

Pintu keempat, PDIP. Pemilik 5 kursi DPRD Sultra punya tokoh berkelas semacam Hugua, Rusman Emba.

PDIP meskipun kekurangan kursinya terbilang besar, namun partai berlambang moncong putih tetap membuka konvensi pilgub, sembari harap-harap cemas bisa mendapatkan 4 kursi koalisi.

Satu hal, kombinasi di atas bukanlah fakta lapangan. Analisa ini tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya melainkan hanya hitung-hitungan kasar di atas kertas.

Dalam kenyataan, bisa saja hasil konvensi Demokrat dan PDIP adalah figur yang sama karena yang mendaftar di kedua partai juga adalah wajah-wajah yang sama.

Bukan mustahil pula figur yang ditelurkan PDIP atau Demokrat ternyata gacoan Golkar atau PAN.

Karena Asrun juga mendaftar di Demokrat dan PDIP, demikian juga Ridwan Bae.

Banyak kemungkinan bisa terjadi. Termasuk kemungkinan hanya 2 paslon bertarung head to head. (*)

To Top