Daerah Makmur, Jika Desa Makmur – Berita Kota Kendari
Beranda

Daerah Makmur, Jika Desa Makmur

Rektor Unilaki, Prof La Ode Masihu Kamaluddin saat tampil dalam acara diskusi FJS. (Foto: yusril/bkk)

KENDARI, BKK – Wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Sultra (FJS) kembali menggelar diskusi, kali ini temanya “Membangun Sultra Dari Desa” dengan nara sumber tunggal Rektor Universitas Lakidende, Prof Dr Ir La Ode Masihu Kamaluddin, M Eng MSc.

Acara yang berlangsung di Ruang Wangi Wangi Swissbell Hotel Kendari, Sabtu (10/6), dipandu jurnalis senior yang juga Direktur Sultrakini.com M Jufri Rachim. Kegiatan diskusi diikuti puluhan wartawan dari berbagai media di Kota Kendari.

La Ode Masihu Kamaluddin mengatakan, untuk membangun daerah khususnya Sultra itu dimulai dari pedesaan, karena jika desa sudah maju maka dengan sendirinya daerah itu akan maju.

‘’Jadi untuk membangun daerah pedesaan harus diterapkan di Sultra, jika daerah ini bisa maju atau kotanya bisa makmur, maka yang harus dilakukan, desanya yang harus di makmur terlebih dahulu,” kata Masihu.

Masihu menguraikan, konsep membangun dari desa sebenarnya sudah lama dilakukan di beberapa negara lain di dunia. Dia mencontohkan Amerika Serikat menggunakan konsep ini sejak presiden Abraham Lincoln. Di negara di eropa juga pada awal tahun 1900-an sudah memulainya.

Sedangkan di Asia, contoh terdekat adalah Korea Selatan, dimana negara ini umurnya hampir sama dengan Indonesia.

“Kita Indonesia ini sebenarnya sudah terlambat. Tapi tentu tidak ada kata terlambat. Kita perlu mencontoh Korea bagaimana membangun daerahnya dengan benar-benar membangun desanya, akhirnya mereka sejahtera,” katanya.

Ia mengatakan, membangun desa bisa dimulai dari sektor pertanian dan perikanan, karena kedua sektor itu yang akan menjadi sumber daya yang ada di setiap desa. Jadi untuk membuat desa itu maju dan makmur, maka harus diadakan kerja sama pemerintah, masyarakat dan univesitas.

“Jadi untuk mengembangkan pertanian di desa, ada dua macam yang perlu dikembangkan yakni pertanian terbuka jika asumsi tanah luas. Ada juga pertanian tertutup jika lahan sempit sehingga lahirlah yang disebut green house,” katanya.

Untuk membangun green house di pedesaan, itu sudah bisa dihitung keuntungan dari setiap green hose, karana Universitas Lakidende itu sudah mengembangkan green hose ini, dan saat ini kami sudah bangun tiga unit green house di Kampus kami yang merupakan terbaik di Indonesia.

‘’Green house itu sangat baik, untuk di kembangkan disetiap desa, asalkan mendapatkan dukungan dari beberapa pihak yang terkait, yakni pemerintah, univesitas dan masyarakat. Jadi membangun desa agar lebih baik lagi yaitu memakmurkan dulu desanya,” katanya.

Soal green house, Masihu mengklaim behwa green house yang dimiliki Unilaki adalah yang terbaik di Indonesia. “Makanya ada beberapa universitas di Jawa seperti Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),” ujarnya.
Masihu Kamaluddin mengungkapkan dalam membangun desa, Unilaki sudah menggagas melalui konsep

smart village. Konsep ini, katanya akan menyumbang pendapatan lebih besar untuk daerah.

“Dalam konsep ini, melibatkan empat elemen yang disebutnya Quarter Helix, yakni perguruan tinggi, pemerintah daerah, masyarakat dan pengusaha,” katanya.

Perguruan tinggi berfungsi untuk melahirkan generasi muda yang berdedikasi membangun desa melalui sistem pertanian modern. Mahasiswa dari semua fakultas dilibatkan dalam pengembangan desa pintar tersebut. Prof. Masihu mengilustrasikan, mahasiswa Fakultas Teknik dilatih mendesain sistem desa yang modern, mahasiwa Ekonomi merancang model marketing, manajemen ekonomi dan packaging produk desa, mahasiswa Keguruan mentransformasi pola pikir modern kepada masyarakat desa, dan mahasiswa  Ilmu Sosial dan Pemerintahan menata sistem pemerintahan desa. Sedangkan mahasiswa Pertanian akan membantu masyarakat bertani dengan sistem modern.

Pemerintah daerah, kata Masihu, menjadi penghubung kepada masyarakat sebagai pelaku utama, dengan perguruan tinggi sebagai penyedia tenaga terampil dan pengusaha yang akan menjadi pemodal sekaligus pembeli produk masyarakat desa.

“Untuk pertanian, logika yang dibangun adalah agroindustri, bukan agribisnis. Ada dua jenis pertanian, open fill agriculture (sistem pertanian terbuka) dan close agriculture (pertanian tertutup). Nah, kita kembangkan close agriculture dengan konsep green house,” terang Masihu.

Dia mencontohkan pola pertanian yang tengah menjadi pilot project Unilaki di Konawe Utara dan Kolaka Timur. Di dua kabupaten itu, pihaknya mengembangkan pertanian cabe dan tomat dengan sistem green house. Di Kampus Unilaki sendiri saat ini didirikan dua unit green house sebagai percontohan.

Pola bertani seperti ini, kata Masihu, akan memberikan hasil pertanian yang lebih produktif dan efisien. Memang modal yang dibutuhkan cukup besar, namun dengan konsep Quarter Helix, akan memudahkan hal ini.

“Produk sudah ada yang siap beli. Kebutuhan pangan dunia saat ini sangat besar. Krisis pangan dunia ini membuka peluang besar bagi desa,” kata Masihu sembari mencontohkan masyarakat desa di Korea Selatan yang kini maju dengan sistem pertanian modern.

Saat ini, pemerintah daerah di Kabupaten Konawe Utara dan Kolaka Timur menyiapkan 500 hektar untuk lahan pertanian modern di desa. Menyusul Kabupaten Buton Selatan yang sudah menandatangani kontrak dengan Unilaki, serta daerah lainnya dengan spesifikasi pengembangan produk pertanian yang berbeda.(p13/lex)

To Top