Nuansa Ramadhan

Baznaskab Kolaka Tetapkan ‎Besaran Zakat 28 Ribu

Wakil ketua Baznaskab Kolaka Hasdin Al Judawie

KOLAKA,BKK- Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten (Baznaskab) Kolaka menetapkan besaran nilai zakat untuk tahun 1438 hijriyah, sebesar Rp 28 ribu/jiwa untuk warga yang setiap hari mengkonsumsi beras dan jagung.

“Besarnya nilai zakat fitrah tahun 1438 hijriyah/2017 untuk yang mengkonsumsi beras dan jagung sebesar Rp 28 ribu/jiwa, dituangkan dalam keputusan Baznaskab Kolaka nomor 027/a.1-Kpts/BAZNAS-Klk/VI/2017,” ‎kata wakil ketua Baznaskab Kolaka Hasdin Al Judawie, Kamis (8/6), di kantornya.

Menurut mantan Anggota DPRD Kolaka ini, nilai zakat tahun ini turun dari sebelumnya, dimana di  2016 lalu nilai zakatnya Rp 32 ribu/jiwa ‎karena digenapkan nominal harga empat liter beras. Sementara saat ini berdasar pada syariah, dimana satu sha beras sama dengan 3,5 liter.

Menurut Hasdin, ditetapkannya zakat beras dan jagung sebesar  Rp 28 ribu/‎jiwa, setelah pihak Baznaskab melakukan survei disemua pasar tradisional yang ada di Kabupaten Kolaka. Setelah itu,  ditindaklanjuti rapat bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kolaka 24 Mei lalu.

Adapun bagi masyarakat yang mengkonsumsi makanan pokok sagu, nilai zakatnya Rp 17.500/jiwa dengan hitungan harga sagu Rp 5 ribu/liter.

Terkait fidyah, Hasdin mengungkapkan bahwa besarnya kadar fidyah tahun ini adalah satu mud atau 0,675 gram makanan pokok. Jika dinilai dengan uang sama dengan biaya standar‎ makanan yang menyenangkan sebesar Rp 35 ribu/hari dikalikan jumlah yang tidak dipuasakan, disebabkan adanya uzur syari. Adapun penerima fidyah diperuntukkan bagi orang miskin/fakir yang berpuasa dan rajin beribadah.

Tak lupa Hasdin menyampaikan persentase pembagian dan pendistribusian zakat fitrah, yakni asnaf fakir miskin di desa/kelurahan 50 persen, amil zakat di setiap Unit Pengumpul Zakat (UPZ) 20 persen, muallaf 5 persen, arriqab atau budak 5 persen, ‎gharimin atau orang yang terlilit hutang dan tidak memiliki kemampuan membayar 5 persen, fi sabilillah atau berjuang di jalan Allah 10 persen, dan ibnu sabil atau musafir yang kehabisan bekal 5 persen.

“Prioritas pembagian diperuntukkan kepada asnaf fakir dan miskin, sehingga persentasenya bagian amil boleh dikurangi dari 20 persen, dan tidak dibenarkan mengambil lebih dari ketentuan yakni maksimal 20 persen,” terang Hasdin Al Judawie. (r3/nur)