Ditahan, Penghina Kapolri Tinggalkan Istri dan Anak Berusia 2,3 Tahun – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Ditahan, Penghina Kapolri Tinggalkan Istri dan Anak Berusia 2,3 Tahun

Nursalam saat digiring ke ruang tahan Mapolda Sultra. (KASMAN/BKK)

KENDARI, BKK – Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi menahan Nursalam (28), tersangka kasus dugaan penghinaan lewat media sosial Facebook (Fb).

Polisi melakukan penahanan selama 20 hari ke depan, terhitung sejak Senin (5/6/2017) pukul 17.00 Wita.

Dengan demikian, warga Jalan Anawai Kelurahan Anawai Kecamatan Wuawua ini harus rela tidur berpisah sementara dengan istri dan anak lelakinya yang masih berusia 2,3 tahun.

Status tersangka hingga penahanan Nursalam diputuskan melalui gelar perkara. Nursalam ditahan Rumah Tahan (Rutan) Polda Sultra.

Demikian dikatakan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Sultra Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sunarto kepada sejumlah awak media, Selasa (6/6).

Disebutkan, Nursalam ditetapkan sebagai tersangka dugaan penghinaan atas nama Presiden Republik Indonesi, Kepala Kepolisan Republik Indonesi (Kapolri), dan salah satu partai.

Kemudian, sejumlah postingan tersangka berisi isu suku, agama, ras, dan antagolongan (sara).

Polisi yang akrab disapa Narto ini mengungkapkan, tersangka mulai menulis status provokatif, penghinaan, dan isu sara setelah bergabung dengan salah satu grup Fb pada akhir 2016.

“Grup Fb ini selalu mengunggah video yang memuat kelemahan serta menyudutkan institusi pemerintah, polri hingga paratai politik. Nursalam diduga terpengaruh dengan video yang ditonton sehingga muncul postingan penghinaan dan pencemaran nama baik,” terang perwira polisi dengan dua melati di pundak ini.

Narto menuturkan, penyidik sedang melengkapi berkas perkara tersangka. Beberapa hal yang akan dilakukan yakni akan meminta keterangan ahli cyber crime dari Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, dan memeriksa alat elektronik yang digunakan tersangka.

“Penyidik sudah meminta keterangan saksi ahli bahasa dari Kantor Bahasa Sultra. Kemudian, penyidik juga sudah melayangkan panggilan terhadap saksi-saksi yang berkomunikasi dengan tersangka di Fb,” terangnya.

Lebih lanjut Narto mengatakan, tersangka dijerat Pasal 45a ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Eletronik (ITE) dengan ancaman pidana enam tahun penjara

Sementara itu, Nursalam mengaku, dirinya menulis status seperti itu karena tidak puas dengan kinerja pemerintah maupun penegakan hukum kepoliasian. Dia mengakui, akunnya atas nama Nursalam pernah diblokir selama tiga hari.

“Di antaranya itu (kecewa dengan kinerja pemerintah dalam menyelesaikan msalah dan penegakan hukum institusi yang dilakukan Polri),” singkat Nursalam dengan nada tanpa penyesalan. (man/iis)

To Top