Iseng Buat Peci dari Tanaman Liar, Kini Banyak Pesanan – Berita Kota Kendari
Headline

Iseng Buat Peci dari Tanaman Liar, Kini Banyak Pesanan

Wa Bae saat mulai mengayam songkok balase, dan contoh sonkok yang telah jadi. Foto: Adnan Irham

Iseng-iseng membuatkan peci atau songkok untuk suami dan kedua anak laki-lakinya, kini buah kerajinan tangan Wa Bae (41) sudah mulai dilirik orang. Banyak memesan peci unik yang terbuat dari tanaman liar sejenis pohon lontar itu.

Laporan: Adnan Irham, Baubau

Pohonnya juga banyak tumbuh di belakang rumahnya di Desa Labuandiri, Kecamatan Siotapina, Kabupaten Buton.

Wa Bae bercerita, kala itu ia dan keluarga akan berziarah ke makam Sultan Buton ke 20 dan 23, La Karambau atau bergelar Oputa Yikoo di puncak gunung Siotapina. Saat itu ia membuatkan tiga buah, itu ia sengaja buat karena akan tahan air, karena biasanya tanaman liar yang sama, dianyam untuk tempat menyimpan beras.

“Pas pulang dari keramat (gunung Siotapina), banyak yang suka, langsung ada yang pesan,” kata Wa Bae saat disambangi di rumahnya, Minggu (4/6).

Bahan baku pembuatan songkok itu katanya diambil dari pucuk daun tanaman sejenis pohon lontar yang biasa disebut masyarakat sekitar daun mangka, ia sengaja memilih pucuk karena lebih mudah dan kuat dari pada menggunakan daun yang sudah mengembang. Satu buah songkok ia buat dalam satu hari, ia tidak menganyam saat siang hari, karena daun mangka akan mengeras jika terkena hawa panas.

Saat ditebang dari batangnya, pucuk daun mangka harus dijemur di terik matahari selama satu minggu. Setelah benar-benar kering, daun kemudian diurai satu persatu hingga berbentuk helaian seperti pucuk daun kelapa saat membuat ketupat. Untuk satu pucuk daun mangka hanya menghasilkan satu buah songkok.

Beberapa tanaman sejenis juga pernah ia coba, termasuk tanaman yang biasa dibuat anyaman tikar, termasuk daun kelapa. Namun akan cepat rusak saat terkena air. Sedangkan daun mangka, menurutnya tahan air maupun panas jika sudah dibentuk songkok. Saat ini sudah banyak yang memesan songkok buatannya, meski mengaku tak menjadi rutinitas, ia hanya membuatnya ketika ada pesanan.

Saat ini pesanan sudah sering datang dari warga desa tetangga, teman kantor suaminya, hingga warga dari Kota Baubau. Songkok Balase, biasa disebut warga sekitar, ia jual seharga Rp 30.000 saja. Ia juga membuatnya berbagai ukuran, yang lagi-lagi sesuai pesanan. Di desanya, hanya ia yang membuat songkok tersebut, karena warga lain belum tertarik.

Isteri dari Arsyad (61) yang memiliki enam orang anak itu, saat membuat songkok balase tidak dibantu anak-anaknya, karena dinilai mudah. Ia akan membutuhkan bantuan saat nanti pesanan banyak.

Wa Bae berharap ada bantuan dari pemerintah untuk menyokong kreatifitasnya, jika nanti ada modal, ia juga akan mengajak serta warga lain yang didominasi petani itu, sehingga mampu membantu perekonomian keluarga.

“Ya kalau ada modal kita mau. Paling cuma untuk beli pita sama hiasannya saja,” tuturnya.

Buatan tangan Wa Bae itu pertama kali dilirik Harisun, Anggota DPRD Kabupaten Buton Selatan, saat bertemu ketika ziarah di puncak gunung Siotapina. Ia juga hingga kini masih terus mengenakan songkok balase kemanapun ia pergi, termasuk saat di kantor dan bepergian ke luar daerah. Songkok itu katanya, merupakan kerajinan tangan yang biasa dipakai saat zaman sebelum kemerdekaan.

Namun seiring perkembangan zaman, dan banyaknya model baru songkok, songkok balase kemudian ditinggalkan. Kini Wa Bae membuatnya kembali meski ia tak tahu menahu pernah ada songkok itu sebelumnya. Ia berharap Wa Bae meneruskan kerajinan itu agar berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat dan keluarganya.

“Ini kan salah satu kearifan lokal kita, kita hidupkan lagi,” katanya.

Sejak ia memakai itu, banyak kerabat, teman dan kenalannya tertarik memiliki songkok unik itu. Bahkan pesanan songkok tidak hanya melalui dirinya, ada juga yang langsung meminta alamat Wa Bae. Ia berharap pula, pemerintah dapat membantu permodalan, sehingga minimal menjadi produk rumah tangga yang bermanfaat dari segi ekonomi. (cr7/lex)

To Top