Headline

Kota Kendari, Banjir Di Mana-mana….

Salah seorang ibu rumah tangga mengevakuasi sejumlah barangnya ke daerah ketinggian setelah rumahnya terendam banjir

Pemandangan kawasan Kecamatan Poasia yang digenari banjir difoto dari udara. Foto: imas susilawati/watshap

 

 

 

 

 

 

 

 


KENDARI, BKK –
Hujan yang mengguyur Kota Kendari hingga Minggu (14/5), membuat hampir semua wilayah Kota Kendari digenangi banjir. Foto banjir yang melanda Kota Kendari itu kemudian banyak menghiasi media sosial khususnya facebook.

Banjir yang melanda Kota Kendari ini, walaupun tak separah bencana tahun 2013 lalu, namun cukup mencemaskan warga Kota Kendari. Karena di sejumlah kawasan banjirnya cukup parah dengan kedalaman satu meter hingga lebih.

Berdasarkan pantauan jurnalis Berita Kota Kendari banjir terparah diantaranya dialami kawasan bantaran Sungai Wanggu di Kelurahan Lepolepo, di Kelurahan Anduonohu dan Rahandouna.

Bahkan hasil foto salah seorang warga dari udara menunjukan bahwa di dua kelurahan banjirnya cukup parah. Mengakibatkan, jalan poros Anduonohu dari arah Pasar Anduonohu hingga di depan Puskesmas Anduonohu ditutup untuk beberapa jam.

Di Kecamatan Poasia yang mengalami banjir meliputi BTN Safira Indah, Kompleks Perumnas Poasia, BTN Wirabuan. Lalu banjir meluas hingga di Kecamatan Kambu seperti di Perumahan Dosen UHO, Jl Mangkarey, dan Jl Lumbalumba.

Di wilayah Mandonga tak ketinggalan, tepatnya di bantaran sungai Mandonga termasuk di kompleks perumahan Walikota Kendari di Jl Syech Yusuf. Namun banjir di kawasan ini airnya hanya setinggi mata kaki.

Namun yang terparah sepanjang hujan bekerpanjangan 3 X 24 jam ini adalah rumah warga di sepanjang bantaran Sungai Wanggu Kelurahan Lepo-Lepo Kecamatan Baruga hingga bundaran pesawat sukoi juga mulai tergenag banjir akibat drainase di wilayah itu sudah tidak mampu lagi menampung air hujan yang cukup besar.

Banjir juga di Keuruahan Korumba Kecamatan Mandonga, sebagain jalan Malik Raya, Saranai dan Sao-Sao, jalan Abunawas kawasan tugu Religi eks MTQ juga ikut tergenang air, namun kendaraan masih bisa melintas.

Ada sebuah rumah di depan RS Hati Mulya dengan dua mobil terparkir di garasinya ditinggalkan begitu saja penghuninya, sementara air yang menggenanginya sudah hampir setengah dari tinggi rumahnya.

Air juga menggenangi komplek perumahan Pepabri dan BTN Griya BNI di RT02/RW01 Kelurahan Wundudopi.

Di Wuawua puluhan rumah warga yang berada rawan banjir menjadi korban. Diantaranya di RT 6 RW 22, di jalan Rambutan 2. Di kawasan ini sejumlah rumah warga terendam hingga selutut orang dewasa atau diperkirakan 50 Cm.

Ani, salah satu warga yang ditemui di lokasi banjir, yaitu di Jalan Rambutan II, Minggu, (14/5), mengatakan sejak hujan kemarin dia dan beberapa tetangga, sudah mulai was-was atas potensi air yang akan menenggelangi rumahnya.

”Kita sudah curiga memang kalau air akan menenggelangi tempat tinggal kita karena sejak kemarin siang hujannya tidak reda-reda, baru langit mendung terus.” katanya,

Ia mengatakan untuk saat ini, belum kepikiran untuk mengungsi, dia hanya pasrah dengan kejadian yang dia alami. Dan begitupun juga tetangganya belum mengungsi.

”Saya berharap kepada pemerintah, untuk membuat Drenase tempat mengalirnya air yang dari dataran tinggi, karena disini belum ada drenase, jadi air tersebut langsung menyelinap didalam rumah kami. karena rumah kami berada di daratan rendah.”tutupnya.

Sementara Yeye, salah satu warga, Kecamatan Baruga kelurahan Lepo-Lepo yang tinggal di sekitaran depan Puskesmas Lepo-Lepo, mengatakan saat ini dan beberapa warga sekitar, telah memindahkan barang-barangnya ditempat yang lebih aman.

”Karena Sungai wanggu sudah mulai meluap. Jadi kami terpaksa mengungsi ditempat yang lebuh aman lagi, jangan samapai airnya akan lebih tinggi lagi,” katanya.

Harapan kami kepada Pemerintah Provensi (Pemrov), kiranya memberikan bantuan seperti Tenda-tenda mengungsi dan juga mencari solusinya masalah banjir ini, terutama di daerah rawan banjir, khusunya di Kota Kendari,” lanjutnya.

Ratusan rumah warga yang terletak di Kelurahan Kampung Salo, juga terendam banjir pada Minggu pagi (14/5).

Ketinggian air saat ini sekitar 1 hingga 3 meter menyebabkan warga harus segera melakukan evakuasi. Arus kali begitu deras sehingga menyebabkan air meluap hingga ke jalan raya.

Petugas TNI bersama warga membantu melakukan evakuasi terhadap warga yang masih terjebak di dalam rumah.

Lurah Kampung Salo, Budi Utomo mengatakan bahwa banjir besar tersebut merupakan banjir kedua setelah musibah banjir yang terjadi pada pertengahan 2013 lalu. Ia berharap agar pemerintah segera memberikan bantuan.

“Dulu pernah banjir besar juga waktu 2013 lalu, kami berharap agar pemerintah segera memberikan bantuan baik itu berupa tenda darurat maupun makanan kepada warga yang menjadi korban banjir,” harapnya.

Semua Kecamatan Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari banjir mengepung seluruh wilayah kota Kendari, yang terdiri dari 64 Kelurahan di 10 Kecamatan. Banjir terparah terjadi di wilayah-wilayah yang berdekatan atau dilintasi dengan anak sungai.

“Semua titik dalam kota Kendari. Data sementara lokasi banjir terparah ada di Kecamatan Lepo-lepo tepatnya di seputaran Kali Wanggu, Kecamatan Kadia, Kecamatan Kendari Barat, Kecamatan Poasia tepatnya di Kelurahan Pondambea, Kecamatan Kendari dan Kecamatan Baruga,” ujar Kepala BPBD Kota Kendari Suhardin

Menurut Suhardin pihaknya belum mendata secara detil korban banjir namun dirinya memastikan jika banjir terjadi di seluruh wilayah kelurahan di Kota Kendari.

Banjir juga membuat rumah warga Kota Kendari terendam air dan sebagian tanah longsor. Kondisi itu pun membuat warga resah. Mereka pun terpaksa mengevakuasi barang-barang berharga yang dimiliki
Ia mengatakan lokasi yang terparah saat ini terjadi banjir berada di Kecamatan Baruga yakni Kelurahan Lepo-Lepo dan Wundudopi yang berdekatan dengan bantaran Sungai Wanggu.

“Saat ini kami sudah membangun tenda pengungsian sejak dua hari lalu di bantaran kali wanggu untuk menampung para pengungsi yang rumahnya terendam banjir,” katanya.

Tenda maupun posko pengungsian warga telah dibangun melibatkan warga setempat dan bekerja sama dengan berbagai pihak seperti TNI-Polri, Dinas Sosial provinsi dan kota, Basarnas Kendari, PMI, dinas kesehatan dan berbagai pihak terkait.

Bencana banjir serupa di Kota Kendari, pernah terjadi pada Juli 2013, merendam enam kecamatan dan mengakibatkan satu warga meninggal serta memaksa ribuan orang mengungsi. (p13/lex)

To Top