Jadi Pengedar Sabu, Istri Kades Tetehaka Diringkus Polisi – Berita Kota Kendari
Lingkar Sultra

Jadi Pengedar Sabu, Istri Kades Tetehaka Diringkus Polisi

Inilah, Mr (34) istri Kades Tetehaka kecamatan Tontonunu kabupaten Bombana yang diringkus polisi karena menjadi pengedar Narkoba jenis sabu-sabu.

RUMBIA, BKK – Diketahui menjadi pengedar obat terlarang yakni Narkotika Psikotropika dan Bahan Adiktif (Narkoba) jenis Sabusabu, seorang istri kepala desa asal kabupaten Bombana, diringkus polisi.

Adalah, Mr (34), warga sekaligus istri Kades Tetehaka kecamatan Tontonunu kabupaten Bombana. Dia diringkus polisi dikediamannya pada, Selasa (2/5) dinihari kemarin, sekitar pukul 03.30 Wita.

Proses penangkapan istri sang Kades ini berawal dari adanya laporan jika warga kecamatan Tontonunu yang kerap menyalahgunakan Narkoba.

Atas laporan tersebut pihak Polsek Poleang kabupaten Bombana langsung bergerak dan melakukan penyekidikan, hasilnya polisi mencurigai, Mr.

Guna memastikan keterlibatan tersangka Mr, jajaran Polsek Poleang akhirnya melakukan penggrebekan tersebut, alhasil polis berhahsil menemukan sejumlah alat bukti.

“Setelah kami mekakukan pengintaian selama kurang lebih sebulan lamanya,  kami memastikan jika, Mr ini terlibat dalam kasus peredaran sabusabu diwilayah itu,” kata Kapolsek Poleang,  IPTU Radin Mulyadi.

Menurutnya, ditangan tersangka pihaknya menyita sejumlah barang bukti berupa 16 palet sabu.

Selain itu polisi juga menemukan barang bukti lainnya seperti, satu set bong sebagai alat hisap sabu, korek gas, Hand Phone (HP), serta uang tunai sebanyak 200 ribu.

“Hasil penyelidikan kami sementara menunjukkan jika sabusabu yang dimiliki tersangka, Mr diperoleh dari Kendari,” katanya.

Kini kasus yang menjerat istri orang nomor satu di desa Tetehaka ini sudah dilimpahkan kepihak Satuan Narkoba Polres Bombana.

Atas kasus ini, tersangka dijerat dengan pasal 114 subsider Pasal 112 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Ancaman hukumannya yakni penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 20 tahun dan denda Rp 1 miliar rupiah,” terang, Raden Mulyadi. (r2)

To Top