101 Warga Busel Mengidap TBC – Berita Kota Kendari
Lingkar Sultra

101 Warga Busel Mengidap TBC

BATAUGA, BKK- Penderita Tuberkulosis atau TBC di Buton Selatan cukup banyak. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara, 101 warga sudah positif menderita penyakit berbahaya ini.

Kepala Bidang P2P, Dinas Kesehatan Sultra drg Heny Triviani M Kes mengatakan, jumlah tersebut hanya berdasarkan data dari puskesmas se Buton Selatan. Ada kekhawatiran jumlah penderita TBC yang sesungguhnya lebih dari itu.

Mahalnya biaya berobat menjadi salah satu pemicu penderita enggan berobat. Yang memprihatinkan lagi, dari 101 penderita tersebut, capaian pengobatan baru sekitar 80 persen.

“Angka 101 itu diambil berdasarkan data dari penderita yang masuk berobat di puskesmas-puskesmas. Jadi total jumlah ini baru yang memeriksakan diri dan itu di luar dari penderita yang tidak memeriksakan dirinya. Mungkin mereka takut biaya yang mahal,” kata drg Heny saat menggelar advokasi sosialisasi evaluasi frambusia, di aula SMKS Alsafitri, Busel, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, TBC merupakan kategori penyakit yang sangat berbahaya. Penyakit ini termasuk dalam urutan kesepuluh penyakit yang paling mematikan. Organisasi Kesehatan dunia, WHO, mencatat lebih dari 1,7 juta orang meninggal dunia setiap tahunnya akibat penyakit ini. Kematian sering diakibatkan gangguan parah diparu-paru hingga membuat pernafasan terhambat.

TBC disebabkan pola hidup yang tidak sehat, yang kemudian memicumunculnya bakteri yang menyebabkan infeksi di dalam tubuh. Dan yang perlu dipahami dengan baik, TBC adalah penyakit menular.

“Biasanya juga penderita penyakit ini disebabkan oleh penularan penderita aktif terhadap orang lain. TBC bisa menular melalui udara, jadi sangat berbahaya. Gejalanya biasanya diawali batuk-batuk, jadi jangan sepelekan kalau batuk,” jelasnya.

Meski penyakit ini tergolong mematikan, namun bukan berarti tidak bisa diatasi. Itu jika bisa dengan cepat terdeteksi oleh medis dan mengikuti semua alur pengobatan yang sudah ditentukan.    “Penyakit ini masih bisa diatasi, asal penderita selalu memeriksakan diri di puskesmas sehingga bisa mendapatkan perawatan,” tambahnya.

Untuk mencegah meluasnya penyakit ini, pihaknya meminta dukungan pemerintah daerah, pemerintah desa, pihak puskesmas dan tenaga medis untuk terus mensosialisasikan pola hidup sehat kepada masyarakat. Karena mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. (p14/aha)

To Top